Breaking News:

Berita Nasional

Film Merah Putih VS Radikalisme Tuai Polemik, Buya Yahya: Cadar Tidak Ada Kaitan dengan Radikalisme

Buya Yahya mengimbau agar sebaiknya film itu diedit kembali. Sebab, kata dia, pencabutan cadar kemudian dibanting adalah bentuk merendahkan.

Editor: Feryanto Hadi
alhamdan.id
Buya Yahya 

Jika film itu tujuannya itu maka film itu sangat terpuji, sangat baik. Akan tetapi, sebuah kebaikan itu sendiri harus dijalankan oleh orang yang bijak," jelas Buya Yahya dikutip Wartakotalive.com.

Meski demikian, menurut Buya Yahya, dalam pembuatan film tersebut harusnya bijak dan melihat dampaknya.

Jangan sampai, kata dia, niat yang baik justru menimbulkan polemik baru.

"Makna bijak itu begini, kalau ambil ikan, ambil ikannya kalau bisa ikannya jangan keruh. Kalau ingin menyelesaikan sebuah masalah, sebisa mungkin jangan menghadirkan masalah. Kalau ingin memanamkan jiwa nasionalis dan patriotis itu adalah sah. Cuma caranya ini yang harus waspada kita," imbuhnya.

Baca juga: Film Merah Putih Vs Radikalisme yang Dibintangi Gus Muwaffiq Dikecam, Dianggap Pecah-belah Ummat

Buya Yahya kemudian menyoroti soal agedan berkelahi dan melepas cadar dengan paksa.

Buya Yahya beranggapan, agedan itu bisa membuat orang salah paham bahkan tersinggung.

Pasalnya, di Indonesia sendiri banyak perempuan yang mengenakan cadar dengan tujuan yang baik.

"Katakanlah ada kabar cadar dicabut, kenapa harus pakai cadar yang djadikan contoh. Barangkali ini adalah nasihat kepada yang membuat film, buatlah yang sekiranya tidak ada satu pun orang Indonesia, apakah yang pakai blangkon, yang pakai kerudung, yang pakai peci item atau yang pakai kemben, tidak ada yang tersinggung. Itu baru anda bijak.

Tapi kalau anda membuat sesuatu ingin menyelesaikan masalah tapi anda tidak waspada tanpa kebijaksanaan, ada yang tersinggung. Ribuan kaum muslimat di Indonesia pakai cadar. Jangan sampai yang pakai cadar dianggap sebagai pelaku yang amoral, pelaku yang tidak benar atau pelaku radikal. Ini yang salah."

Baca juga: Komentari Polemik Film Merah Putih VS Radikalisme, HNW: Jangan Pecah Belah Umat

Karena kita menemukan wanita yang penuh dengan kelembutan, wanita-wanita yang ingin menjaga dirinya, dan itu sah pakai cadar. Artinya kalau ingin membuat film yang sifatnya menanamkan jiwa patriotis dan jiwa nasionalis, hendaknya dengan penuh kebijakan, karena ingin menyatukan ummat

"Jangan sampai ada yang tersakiti dong bangsa kita ini. Jangan sampai nanti yang dicontohkan orang yang pakai blangkon, ya nggak boleh, nanti orang jawa tesinggung. hendaklah dihindarkan yang seperti itu."

Selanjutnya, Buya Yahya mengimbau agar sebaiknya film itu diedit kembali. Sebab, kata dia, pencabutan cadar kemudian dibanting adalah bentuk merendahkan.

Buya Yahya juga menyebut, radikal jangan dikaitkan dengan Islam bahkan dengan perempuan bercadar.

"Imbuan kami adalah kalau memang ada film itu, dipotong dulu atau diganti adegan-adegan seperti itu. Yang menampilkan bahwasanya cadarnya dicabut kemudian dibanting, itu merendahkan. Hubungannya dengan Islam itu.

Radikal tidak ada hubungannya dengan cadar. Yang ngebom tidak harus becadar kok. hanya kebetulan ada yang bercadar, tapi tidak semua bercadar. Yang tidak pakai baju juga ada yang ngebom. Jadi, kita harus adil dalam memberikan penilaian."

"Jangan menyatukan ummat dengan memecahbelah ummat. Kami imbau agar film yang ada peran seperti itu, hendaklan diganti. Jangan sampai ada yang tersingguh. Penggunaan cadar adalah wanita yang ingin menjaga dirinya. Khawatir kita ada permusuhan yang tersembunyi. Kita perlu orang bijak. Kita perlu kedamaian. tapi ingat, jangan bikin perdamaian dengan membuat kegaduhan.:

"Ingat, yang merusak bukan cadar. Yang merusak bukan islam. Justru lihat, keberadaan islam jadi keteduhan di negeri ini." 

Meski demikian, Buya Yahya mengajak masyarakat untuk tidak mudah menjustifikasi.

Sebab, siapa tahu, penggagas dan pembuat film itu sedang khilaf.

"Mungkin niatnya baik, ya seperti orang pengin bersihin rumput, karena kurang hati-hati, ya wajar lah. tapi jika sejak awal ingin memangkas padi ini adalah kejahatan teselubung di balik pembelaan terhadap negara." 

"Akan tetapi, jika ada padi terpangkas, maka dibenahi. Potong itu film, atau jangan ditayangkan, diganti dengan sebuah film yang membangkitkan jiwa patriotis dan nasionalis tanpa menyinggung perasaan siapapun. Itulah negeri kita, Indonesia Raya yang penuh kedamaian."

"Orang cerdas masih banyak ide kok. Kalau memang anda cerdas, banyak ide dong untuk mempersatukan ummat. Orang bijak banyak ide. Tapi ingat, bagi siapapun, mungkin itu adalah kekhilafan, Kita tidak ingin juga menyampaikan ini menimbulkan lalu menimbulkan permusuhan. Mungkin yang membuat film itu khilaf. Kalau khilaf, ya tinggal sekarang berbenah. Tapi jangan langsung menjustifikasi 'itu kejahatan', oh jangan juga gitu. Kita tidak ngerti kok niatnya. Niat orang kan Allah yang tahu."

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved