Berita Nasional

Inovasi Jadi Strategi Memperkuat Industri Baja Nasional dalam Percepatan Pengembangan Infrastruktur

Inovasi Jadi Strategi Memperkuat Industri Baja Nasional dalam Percepatan Pengembangan Infrastruktur. Berikut Penjelasannya

Editor: Dwi Rizki
istimewa
Webinar Infrastructure Connect Digital Series bertajuk 'Strategi Memperkuat Industri Baja Nasional dalam Percepatan Pengembangan Infrastruktur' pada Rabu (30/9/2020). 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Pandemi virus corona atau covid-19 menggerus perekonomian Indonesia, termasuk industri baja nasional.

Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier mengatakan seluruh negara-negara di dunia kini tengah berupaya meningkatkan industri baja.

Seperti para pengusaha Amerika Serikat yang menyurati parlemen untuk mengeluarkan kebijakan guna mendorong infrastructure bill guna mendorong industri baja mereka. 

Tujuannya diungkapkan Taufiek untuk menekan arus pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. 

"Karena semua pada saat covid hampir seluruh industry (baja) ini mengalami slow down dan kemudian banyak dijumpai tenaga kerja yang mungkin dijaga agar tidak di PHK. Ini satu upaya yang besar, jadi distruption dari supply chain secara global," jelasnya dalam webinar Infrastructure Connect Digital Series bertajuk 'Strategi Memperkuat Industri Baja Nasional dalam Percepatan Pengembangan Infrastruktur' pada Rabu (30/9/2020).

Taufiek menjelaskan, sejumlah negara yang berkonsentrasi di industri baja menggunakan skema stimulus untuk membangkitkan industri baja nasional mereka.

Lewat skema stimulus tersebut diharapkan permintaan baja tumbuh, sehingga semua ekosistem yang ada di industri baja ini juga ikut bergerak.

“Pemerintah Cina juga sama, mengeluarkan bounce sampai sekitar 326 miliar US dolar. Jadi pemerintah pusat dan daerah untuk proyek pembangunan hampir 13 airport, kemudian 9 railway," jelas Taufiek.

Papan Pengumuman di Rumah OTG Dikritik Keras DPRD DKI, Tak Bermanfaat, Sebaiknya Jangan Dipasang

"Semua ditujukan untuk membangkitkan (permintaan baja) dan estimasi dari proyek yang seperti itu, di Cina itu 21 juta ton dapat terserap di proyek-proyek tersebut," paparnya.

Lebih lanjut dipaparkannya, merujuk peta dunia,  diketahui sebanyak 52 persen permintaan baja berasal dari sektor konstruksi dan bangunan.

Sedangkan industri mesin sebanyak 16 persen, otomotif sebesar 12 persen, kebutuhan rumah tangga sebesar 10 persen dan sektor elektronik sebesar 3 persen.

"Ini adalah gambaran besar mengapa infrastruktur menjadi penting untuk di dorong oleh dana pemerintah," imbuhnya.

Kabar Baik, Bek Ipswich Town FC Elkan Baggott Segera Gabung Timnas U-19

Selain itu, instrument lain yang tak kalah penting dalam memperkuat industri baja nasional menurut Taufiek adalah standar nasional Indonesia (SNI) produk baja dan peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Ia menilai, secara teknik, SNI merupakan instrument yang cukup bagus untuk membendung arus produk impor.

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved