Kamis, 9 April 2026

Virus Corona

Penjelasan BIN soal Hasil Tes Swab Covid-19 yang Berbeda dengan Pihak Lain

BIN menerapkan ambang batas standar hasil PCR tes yang lebih tinggi dibandingkan institusi atau lembaga lain yang tercermin dari nilai CT qPCR atau am

Penulis: Budi Sam Law Malau | Editor: Feryanto Hadi
Istimewa
WAWAN Hari Purwanto 

WARTAKOTALIVE.COM, SEMANGGI--Badan Intelijen Negara (BIN) memberi penjelasan mengenai adanya perbedaan hasil uji tes swab yang dilakukan pihaknya dengan pihak lain, dalam rangka tracing atau pelacakan penyebaran wabah Covid-19 di Indonesia, dalam tujuh bulan terakhir.

Deputi VII Badan Intelijen (BIN), Wawan Hari Purwanto mengatakan untuk masalah akurasi hasil tes, laboratorium BIN dalam melakukan proses uji spesimen, menggunakan 2 jenis mesin RT PCR, yaitu jenis Qiagen dari Jerman dan jenis Thermo Scientific dari Amerika Serikat.

Semuanya kata dia memiliki sertifikat lab BSL-2 yang telah didisain mengikuti standar protokol laboratorium, telah dilakukan proses sertifikasi oleh lembaga sertifikasi internasional World Bio Haztec (Singapore), serta melakukan kerjasama dengan LBM Eijkman untuk standar hasil tes.

Wali Kota Bekasi Persilakan Warga Jakarta Cari Hiburan di Wilayahnya selama PSBB, tapi Ada Syaratnya

"Sehingga layak digunakan untuk analisis Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction atau RT-PCR yang sesuai standar," kata Wawan dalam keterangan tertulisnya kepada Warta Kota, Senin (28/9/2020).

Menurut Wawan, BIN menerapkan ambang batas standar hasil PCR tes yang lebih tinggi dibandingkan institusi atau lembaga lain yang tercermin dari nilai CT qPCR atau ambang batas bawah 35.

"Namun untuk mencegah OTG lolos screening maka bin menaikkan menjadi 40, termasuk melakukan uji validitas melalui triangulasi 3 jenis gen yaitu RNP/IC, N dan ORF1ab," ujarnya.

Film Buffalo Boys Dibintangi Ario Bayu, Pevita Pearce di SCTV Senin 28 September Pukul 23.00

Wawan menuturkan Dewan Analis Strategis Medical Intelligence BIN, termasuk pula jaringan Intelijen di WHO telah menjelaskan bahwa fenomena hasil test swab positif menjadi negatif bukan hal yang baru dan dapat disebabkan oleh beberapa hal.

Yakni kata dia RNa atau.protein yang tersisa atau jasad renik virus sudah sangat sedikit bahkan mendekati hilang pada treshold, sehingga tidak terdeteksi lagi.

"Apalagi subjek tanpa gejala klinis dan di test pada hari yang berbeda. OTG atau asimptomatik yang mendekati sembuh, berpotensi memiliki fenomena tersebut," katanya.

Lalu kata Wawan, penyebab lainnya adalah terjadi bias pre-analitik yaitu pengambilan sampel dilakukan oleh 2 orang berbeda.

"Dengan kualitas pelatihan berbeda dan SOP berbeda pada laboratorium yang berbeda, sehingga sampel Swab sel yang berisi virus covid tidak terambil atau terkontaminasi," jelas Wawan.

Penyidik Analisa Penyebab Kebakaran Gedung Kejagung Kesengajaan Atau Kelalaian

Selain itu kata dia, sensitivitas reagen dapat berbeda terutama untuk pasien yang nilai CQ/CT nya sudah mendekati 40. Dalam kaitan ini, BIN menggunakan reagen perkin elmer (USA), a-star fortitude (Singapore), Wuhan Easy Diag (China).

"Reagen ini lebih tinggi standar dan sensitivitasnya terhadap strain Covid-19 dibandingkan merk lain seperti Genolution (Korea) dan Liferiver (China) yang digunakan beberapa rumah sakit," ujarnya.

"Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan uji swab antara lain adalah kondisi peralatan, waktu pengujian, kondisi pasien, dan kualitas test kit," tambah Wawan.

Sementara BIN, katanya, menjamin kondisi peralatan, metode, dan test kit yang digunakan adalah Gold Standard dalam pengujian sampel Covid-19.

Peringatan Hari Rabies Sedunia, 53 Hewan di Jakarta Dapat Vaksin Gratis

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved