Breaking News:

Virus Corona

Masih Ada Masyarakat Tak Percaya Covid-19, Anis Matta: Frustasi karena Tidak Dikasih Peta Jalan

Apalagi terjadi lonjakan pasien positif Covid-19, setelah pemerintah mengumumkan penerapan new normal atau Adatapsi Kebiasaan Baru (AKB).

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Anis Matta saat mendatangi Kantor Redaksi Tribun Network di Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2020). 

"Makanannya berupa hewan ini didekatkan kepada dia, potensi itu pasti terjadi," tuturnya.

Kedua, climate change, perubahan iklim.

 Polda Metro Jaya Periksa Hadi Pranoto Senin 24 Agustus 2020, Pertimbangkan Panggil Anji Lagi

Dia mengungkapkan sesuai ramalan WHO, mungkin ada krisis pangan dalam dua tahun ke depan.

Dia mengatakan, sebagian besar dari musibah-musibah yang saat ini dihadapi faktornya adalah perubahan iklim, terlepas perdebatan perubahan iklim teori konspirasi atau tidak.

"Faktanya, jumlah bencana alam lebih banyak, banjir lebih banyak, tsunami lebih sering, kekeringan, kebakaran hutan, dan seterusnya."

 Tak Kunjung Jera, Pelanggar PSBB Transisi di Jakarta Timur Bakal Dihukum Jadi Asisten Petugas PPSU

"Australia misalnya, kebakaran kemarin luar biasa."

"Artinya jumlah ini lebih banyak dan mendisrupsi secara ekonomi, sosial, dan secara politik," paparnya.

Ketiga, konflik geopolitik, terutama konflik Amerika-Cina.

 DAFTAR 13 Lokasi Pariwisata yang Boleh Beroperasi Selama Masa PSBB Transisi di Jakarta, Berkurang 10

Anis Matta mengatakan konflik kedua negara tersebut memilili dampak multidimensi.

Ia menyebutnya dengan istilah perang supremasi.

Jadi satu bangsa ini muncul menyebabkan kematian yang lain, incumbent ini harus bertahan. Caranya dia harus menghabisi penantang ini.

 Erick Thohir Pastikan Bahan Baku Vaksin Covid-19 dari Sinovac Tiba di Indonesia Mulai November 2020

"Sekarang mana yang kalah incumbent atau penantang, kita tidak tahu. Tapi sampai kapan berakhirnya kita tidak tahu."

"Tapi mereka berperang menggunakan semua sarana, perang dagang, teknologi, hingga budaya," bebernya.

Keempat, faktor teknologi. Anis Matta mengatakan saat ini semua dipaksa berhijrah ke sistem digital.

 Tiga Gubernur Ini Dinilai Bisa Bertarung di Pilpres 2024 Jika Lolos Ujian Pandemi Covid-19

Namun, banyak instansi pemerintahan yang tidak siap dengan digitalisasi ini, karena tidak didukung dengan infrastruktur yang memadai.

"Ketika kita hijrah ke situ korbannya berapa banyak."

"Jadi keempat faktor ini adalah faktor disrupsi, yang sekarang ini terjadi sekaligus."

 Faisal Basri Prediksi Kementerian Keuangan Suatu Saat Menyerah Jadi Pemadam Kebakaran

"Krisis ini bersifat sistemik, multidimensi, dan berlarut, lama waktunya," papar Anis Matta.

Anis Matta mengatakan, dalam satu analisa sistem global, setiap 80 hingga 100 tahun ada perubahan.

"Misalnya abad ke-16 itu abadnya Portugis, abad ke-17 yang dominan Belanda, abad ke-18 dan ke-19 itu yang dominan Inggris, abad ke-20 itu Amerika."

 Kasus Covid-19 Melonjak Lagi, DPRD Kota Bekasi: Tutup Tempat Hiburan Malam!

"Sekarang dominasi ini akan bertahan atau tidak, kita tidak tahu," ulasnya. (Chaerul Umam)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved