Ini 5 Mitos Diet yang Menyesatkan, Jangan Terjebak
Berikut ini daftar mitos terkait diet, nutrisi dan pengelolaan berat badan yang rata-rata beredar di kalangan masyarakat.
Penulis: | Editor: Murtopo
Laporan wartawan Wartakotalive.com, Lilis Setyaningsih
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Mencari informasi di internet telah jamak dilakukan untuk mencari rujukan saat kita mencari informasi tentang diet.
Informasi yang dicari pelaku diet atau mereka yang ingin menurunkan berat badan biasanya tidak jauh dari pola makan yang bisa menurunkan atau mempertahankan berat badan ideal.
Namun, mencari informasi secara online juga dapat menjadi pedang bermata dua.
Di satu sisi, internet menyediakan informasi akan cara yang mudah dan cepat untuk mengakses berbagai informasi nutrisi, tapi di lain sisi, hal ini telah menyebabkan maraknya mitos-mitos dan misinformasi terkait nutrisi di kalangan masyarakat.
• Diet Happy Diklaim Bisa Turunkan Berat Badan hingga 8 Kilogram dalam Sebulan
Senior Director, Worldwide Nutrition Education & Training, Herbalife Nutrition, Susan Bowerman, mengatakan, jika merujuk pada Herbalife Nutrition’s Asia Pacific Nutrition Myths Survey 2020, media sosial (68%) adalah saluran yang paling sering digunakan oleh konsumen di Asia Pasifik untuk mendapatkan informasi terkait nutrisi.
"Namun, konsumen di Asia Pasifik juga bingung dalam membedakan apakah informasi yang mereka dapat apakah merupakan fakta atau mitos," ujar Bowerman melalui siaran pers yang diterima Wartakotalive.com, Kamis (13/8/2020).
• Tya Ariestya Berbagi Cerita Soal Program Dietnya, Siapa Tahu Bisa Anda Ikuti
Berdasarkan hasil dari kuis yang dilakukan saat survei, berikut ini daftar mitos terkait diet, nutrisi dan pengelolaan berat badan yang rata-rata beredar di kalangan masyarakat.
Enam dari 10 orang mengaku sulit untuk memutuskan apakah hal tersebut fakta atau mitos:
1. Mitos: Diet ketogenik adalah cara sehat untuk menurunkan berat badan.
Diet ketogenik bukanlah cara yang paling berkelanjutan untuk menurunkan berat badan karena akan kehilangan beberapa nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh.
Seseorang yang menjalani diet keto mengonsumsi sangat sedikit karbohidrat, jumlah protein sedang, dan jumlah lemak yang sangat tinggi, sehingga memaksa tubuh untuk mengandalkan lemak tubuh sebagai bahan bakar.
Sementara diet ini membakar lemak tubuh, rendahnya tingkat konsumsi karbohidrat akan mengakibatkan lebih sedikit vitamin dan mineral yang diserap ke dalam tubuh, serta kekurangan serat.
• Warga Usia Produktif Diimbau Wajib Terapkan Protokol Kesehatan karena Rentan Sebarkan Covid
2. Mitos: Cleansing Diet dengan jus adalah strategi yang baik untuk menurunkan berat badan
Mengonsumsi jus mungkin menjadi pilihan yang nyaman dalam upaya mengelola berat badan.
Tetapi sayuran tidak banyak mengandung nutrisi utama untuk menurunkan berat badan seperti protein.
Protein berfungsi memuaskan nafsu makan dan mempertahankan massa otot.
Berat badan yang hilang saat menjalani diet, kemungkinan besar akan naik kembali saat mulai makan kembali secara normal.
Jadi daripada jus buah, makan buah dan sayuran utuh, dan sebagai bagian dari diet seimbang, akan jauh lebih bermanfaat dalam jangka panjang.
• Cerita Irene Ursula Kembangkan Wadah Belanja Produk Kecantikan di Indonesia
3. Mitos: Karbohidrat membuat berat badan bertambah.
Karbohidrat paling sering disalahkan atas penambahan berat badan.
Kelebihan kalori memang berperan besar dalam menambah berat badan secara signifikan.
Untuk memastikan diet seimbang, Filosofi Nutrisi Global Nutrisi Herbalife merekomendasikan 40 persen asupan kalori harian Kamu berasal dari sumber karbohidrat yang sehat.
• Ini Alasan Ade Fitrie Kirana Beri Diskon Produk Kecantikannya, Simak Pula Pengalamannya Berhijrah
Contoh karbohidrat sehat adalah sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan dan biji-bijian.
Karbohidrat yang sehat dapat memberikan nutrisi penting seperti kalsium, zat besi, serat dan vitamin B untuk tubuh.
4. Mitos: Puasa intermiten merupakan cara yang efektif menurunkan berat.
Puasa intermiten adalah istilah umum untuk berbagai jadwal waktu makan, dengan selang seling antara puasa dan tidak puasa dalam periode jam.
Penting untuk diperhatikan bahwa puasa untuk menurunkan berat badan tidak cocok untuk semua orang.
Mereka yang memiliki kondisi medis yang sudah ada sebelumnya seperti diabetes, atau mereka yang sedang menjalani pengobatan untuk tekanan darah tinggi atau penyakit jantung harus menghindari puasa intermiten.
Karena dengan berpuasa intermiten tanpa berdiskusi dengan dokter atau ahli gizi, dapat menyebabkan kadar glukosa darah mereka turun atau meningkat secara berbahaya.
Belum lagi risiko kekurangan elektrolit.
5. Mitos: diet sangat rendah lemak adalah cara terbaik untuk menurunkan berat badan.
Keberadaan lemak sangat penting bagi tubuh kita untuk tetap sehat, karena membantu membangun membran sel dan hormon, dan membantu penyerapan vitamin A, D, E, dan K yang larut dalam lemak.
Banyak diet rendah lemak dilakukan hanya mengganti kalori lemak dengan karbohidrat dan gula yang diproses tinggi.
Tentu saja ini tidak efektif dan tidak akan meningkatkan kualitas makanan secara keseluruhan.
Penelitian juga menunjukkan bahwa diet sangat rendah lemak hanya sedikit menurunkan berat badan di tahun pertama program diet.
Hal ini menunjukkan bahwa diet sangat rendah lemak bukanlah diet terbaik sebagi strategi penurunan berat badan jangka panjang. (*/Lis)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/diet_20180804_081048.jpg)