Kolom Trias Kuncahyono
Cerita Guru: Minum Teh, Bukan Kopi
Di negeri ini—ada Jawa, ada Sunda, ada Bali, ada Flores, ada, Papua, ada Maluku, ada Ambon, ada Manado, ada Bugis, ada Dayak, ada Banjar, ada Aceh, ad
Manusia adalah tuan atas tingkah lakunya, kata Ireneus (125-303), seorang tokoh agung dari Smyrna, Asia Kecil.
Maka itu, Imam Al Ghazali (1058-1111), seorang sufi, teolog, dan filsuf terbesar dalam Islam dari wilayah Khurasan, Iran timur laut, mengatakan, “siapa saja yang meyakini setiap jiwa sebagai permata tidak ternilai, ia pun berhati-hati agar tidak menyia-nyiakan (harus dengan tanggung jawab sebagai mahkluk yang berakal budi dan bermartabat)…termasuk faedahnya adalah mampu mengutamakan orang lain dan mencapai keutamaan.”
Tetapi, kusampaikan pada kalian lagi apa yang dikatakan oleh Guru Besar Profesor Cornelis, bahwa “banyak intelektual (mahkluk ciptaan yang memiliki kehendak bebas, berakal budi, dan bermartabat) terjangkit sindrom superioritas yang secara keliru mengira dirinya unggul secara intelektual dan moral di hadapan kekuasaan.
Oleh karena itu, kemudian bertindak sesuka hatinya. Merasa paling hebat dalam segala-galanya, secara intelektual dan moral di hadapan kekuasaan.
Padahal, kehormatan sejati manusia terletak pada kualitas moralnya, yaitu di dalam hal kebajikan.
Suatu tindakan baru bernilai moral kalau mendukung dan menjamin keselarasan umum.
Dengan kata lain, kebebasan yang benar hanya terdapat dalam pengabdian kepada yang baik dan adil.
Guru diam sesaat. Kami semua memikirkan apa yang dikatakan Guru, yang bagi kami sangat sulit.
Lalu Guru melanjutkan: Ingatlah apa yang dikatakan oleh Guru Besar Prof Cornelis, bahwa ujian terbesar seorang intelektual bukanlah pada kemampuan untuk memaki kekuasaan dan para pelakunya—seperti yang sekarang ini banyak kita dengar—tetapi bertindak bijak bagi kepentingan kemanusiaan banyak orang.
Kepentingan banyak orang, bukan bagi kepentingan sendiri, kelompoknya sendiri, golongannya sendiri, sekadar untuk pelampiasan nafsu kecewa, sakit hati, frustasi dari berbagai macam kegagalan dan sebagainya.
Oh iya, jadi kalian semua sudah tahu, mengapa aku memilih minum teh dan bukannya kopi, bukan? Itu sebuah tindakan yang berdasarkan kehendak bebas yang bisa dipertanggung-jawabkan tidak akan merugikan orang lain. ***
BACA KOLOM TRIAS KUNCAHYONO SELENGKAPNYA, KLIK: Cerita Guru: Minum Teh, Bukan Kopi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/trias-090801.jpg)