Rabu, 15 April 2026

Kolom Trias Kuncahyono

Cerita Guru: Minum Teh, Bukan Kopi

Di negeri ini—ada Jawa, ada Sunda, ada Bali, ada Flores, ada, Papua, ada Maluku, ada Ambon, ada Manado, ada Bugis, ada Dayak, ada Banjar, ada Aceh, ad

Istimewa
Teh dan kopi (Foto ilustrasi) 

WARTAKOTALIVE.COM - Guru sudah duduk di atas batu hitam pipih tanpa alas di tengah pendopo. Kami sudah lebih dulu duduk di tempat itu.

Memang, aturannya begitu. Kami sudah harus duduk di pendopo, sebelum Guru datang.

Seperti biasanya, Guru menebar senyum sejuknya kepada kami.

Senyuman yang membuat kami semua merasa nyaman, merasa terlindungi, merasa betul-betul serasa di rumah, merasa ayem lan tentrem atine,  benar-benar merasa satu saudara meski kami berbeda-beda suku, etnik, ras, dan juga agama. Perbedaan itulah kekuatan kami.

Bukankah sedari awal  penciptaan dunia, segala sesuatunya dalam keanekaragaman.

Ada terang ada gelap, ada matahari, ada bulan dan bintang, pegunungan maupun pantai/ laut, aneka tumbuhan dan hewan, baik di darat dan di laut.

Manusia-pun ada pria dan wanita. Bahkan, tubuh manusia juga terdiri dari anggota-anggota tubuh yang berbeda baik sifat maupun fungsinya.

Perbedaan manusia merupakan fenomena kodrati manusia. Keadaan semacam ini tidak bisa dihapuskan, karena menentang hukum alam.

Di negeri ini—ada Jawa, ada Sunda, ada Bali, ada Flores, ada, Papua, ada Maluku, ada Ambon, ada Manado, ada Bugis, ada Dayak, ada Banjar, ada Aceh, ada Padang, ada Palembang, ada Madura, dan sebagainya.

Semua itu tidak bisa dihapus. Ibarat kata seperti organ-organ dalam tubuh manusia atau binatang yang beraneka ragam.

Tidak bisa dihapus. Agama pun berbeda-beda. Di dunia ini tidak hanya satu agama.

Dalam keanekaragaman manusia, dan seluruh alam ciptaan itu makin terlihat kemuliaan, keindahan dan kebesaran Tuhan.

Guru berdehem kecil sebelum mulai bicara. Kami pun segera diam.

Diskusi (ilustrasi)
Diskusi (ilustrasi) (Istimewa)

Hari ini, kata Guru mengawali piwulangan-nya pagi ini, dengan sengaja aku akan mengutip pendapat seorang guru besar yang baru saja meninggal.

Ia berhenti sebentar, menebarkan pandangan matanya kepada kami semua.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved