Kolom Trias Kuncahyono
Cerita Guru: Minum Teh, Bukan Kopi
Di negeri ini—ada Jawa, ada Sunda, ada Bali, ada Flores, ada, Papua, ada Maluku, ada Ambon, ada Manado, ada Bugis, ada Dayak, ada Banjar, ada Aceh, ad
Dengan mengatakan seperti itu, Imam al-Syafi’i tidak memonopoli kebenaran tetapi memberikan ruang berbeda pendapat. Dengan kata lain, Imam al-Syafi’i menghargai perbedaan.
Sikap semacam inilah, yang oleh Profesor Cornelis, dicatat sebagai sikap seorang intelektual.
Sikap yang melihat perbedaan sebagai menjadi rahmat yang mendamaikan, bukan sebaliknya menjadi sumber konflik, sumber perpecahan.
Tiba-tiba seorang murid bertanya, setelah Guru menyeruput tehnya. Guru, mohon maaf, mengapa Guru lebih senang minum teh bukan kopi?
Mendengar pertanyaan itu, Guru tersenyum. Lalu berkata: Ingatkah kalian yang dulu pernah kukatakan tentang kehendak bebas yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta kepada manusia?
Tentang masalah ini, pernah kita bicarakan di pendopo ini.
Dengan anugerah kehendak bebas itu, manusia diberi kebebasan untuk memilih dan membuat keputusan akhir seturut kehendaknya sendiri.
Manusia juga adalah mahkluk yang berakal budi—inilah yang membedakan manusia dengan binatang dan ciptaan lainnya—juga mahkluk memiliki martabat seorang pribadi.
Dengan itu, manusia memiliki kebebasan bertindak seturut kehendaknya sendiri dan menguasai segala perbuatannya.
Kita semua, memiliki kebebasan, kemerdekaan untuk “memilih yang ini” atau “memilih yang itu”, untuk “menolak yang ini” atau “menolak yang itu.”
Kebebasan pertama-tama memang merupakan berkait dengan kemampuan untuk memilih dan menentukan diri sendiri.
Egomet sum mihi imperator, akulah yang menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Begitu kata Plautus (254-184), penulis naskah-naskah drama.
Oleh karena manusia adalah mahkluk yang berakal budi dan bermartabat, maka diharapkan keputusan yang diambil dengan kehendak bebas tersebut bisa dipertanggung jawabkan.
Kalau, misalnya, keputusannya salah, tentu adalah tanggung jawab manusia sepenuhnya.
Sebab, manusia bisa dikatakan adalah sekaligus arsitek, pelaksana, dan penanggung jawab tunggal atas kehidupannya sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/trias-090801.jpg)