Breaking News:

Virus Corona

Tak Terima Jenazah Dimakamkan Protokol Covid-19, Warga Kebon Melati Protes

Salah satu anak dari pihak keluarga, Alin membantah keras bahwa orangtunya dinyatakan Covid-19.

Tribunnews/Irwan Rismawan
ILUSTRASI -- Petugas mengangkat jenazah pasien virus corona atau Covid-19 yang meninggal untuk dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (25/3/2020). Pemprov DKI Jakarta menyediakan dua taman pemakaman umum (TPU) untuk pasien virus corona (Covid-19) yang meninggal dunia, yakni TPU Tegal Alur dan TPU Pondok Ranggon. 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sejumlah warga Kelurahan Kebon Melati Jakarta Pusat sempat melakukan penolakan atas rencana pemulasaran jenazah dengan protokol covid-19 di RS Tarakan, Rabu (5/8/2020) malam.

Penolakan ini karena salah satu anggota keluarga yang meninggal, akan dilakukan pemulasaran jenazah dengan protokol covid-19.

Pasalnya, jenazah meninggal dunia diduga akibat terpapar covid-19.

Lurah Kebon Melati, Winetrin membenarkan atas penolakan yang dilakukan oleh warganya itu.

 100 Orang Tewas dan 4.000 Orang Luka-luka, Salah Satunya Istri Dubes Belanda di Ledakan Beirut

 Tidak ada Izin, Kemendikbud Minta Pemkot Bekasi Hentikan Proses Simulasi Belajar Tatap Muka

 

Kendati demikian saat ini, pihak keluarga sudah menyetujui proses pemakaman dengan protokol covid-19.

"Benar itu warga kita. Tapi saat ini pihak keluarga sudah setuju dimakamkan secara protokol Covid-19," kata Winetrin, Rabu (5/8/2020).

Sementara itu, Kasudin Kesehatan Jakarta Pusat, Erizon Safari yang berada di lokasi menyampaikan jika memang jenazah diduga terpapar covid-19, karena memiliki penyakit penyerta.

Sehingga pihak rumah sakit melakukan protokol covid-19.

"Memang jenazah infonya ada penyakit penyerta juga. Tapi sudah selesai akan langsung di Makamkan jadi tidak di bisa dibawa ke rumah," katanya.

 Bangun Stasiun Thamrin untuk MRT Fase 2A, Rekayasa Lalin Dilakukan

 Mundur dari Sekda Tangsel untuk Maju Pilkada, Muhamad Kembalikan 5 Kendaraan Pelat Merah

Sedangkan salah satu anak dari pihak keluarga, Alin membantah keras bahwa orangtunya dinyatakan Covid-19.

Menurutnya, almarhum masuk ke rumah sakit Tarakan pukul 04.00 WIB Rabu 5 Agustus 2020.

Kemudian nyawa almarhum tidak tertolong pada pukul 12.00 WIB.

"Yang jelas Ibu saya itu meninggal karena gula, karena gulanya saja sampai 600 hingga berujung gagal Jantung. Saya keberatan dengan cara RS Tarakan bilang proses pemakaman secara protokol Covid-19," tegas Alin. (jos)

Penulis: Joko Supriyanto
Editor: Mohamad Yusuf
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved