Sabtu, 18 April 2026

Kolom Trias Kuncahyono

Vladimir Putin: Anggur Lama, Botol Baru

Hasil referendum terhadap amandemen Konstitusi Rusia menegaskan bahwa Vladimir Putin adalah orang kuat di Rusia, atau bahkan paling kuat.

Istimewa
Lapangan Merah, Gereja St Basil, dan Kremlin 

Tetapi, sekarang, Putin mewarisi “tradisi” para pemimpin Uni Soviet yang berkuasa hingga akhir hayat.

Meskipun mulai 2008, misalnya, secara resmi orang nomor satu di Rusia adalah Medvedev, sebagai presiden, tetapi Putin yang mantan perwira KGB pernah menjadi presiden (2000-2008) dan perdana menteri di zaman Medvedev, tetaplah yang paling berpengaruh (Simon Pirani, 2010).

Matryoshka (ilustrasi)
Matryoshka (ilustrasi) (Istimewa)

Putin, memang populer. Hal itu antara lain karena ekonomi tumbuh hampir setiap tahun sejak 1997. Pengangguran rendah.

Upah dibayarkan tepat waktu dan jauh lebih tinggi daripada tahun 1990-an.

Negara menjalankan fungsinya secara efisien.  Inflasi rendah. Orang-orang memiliki kepercayaan pada institusi negara.

Angkatan Bersenjata dibayar tepat waktu. Pendidikan berkembang.

Sekarang, banyak orang fasih berbahasa Inggris dan Mandarin. Pembangunan infrastruktur meningkat secara dramatis.

Menurut Simeon Djankov dari Peterson Institute for International Economics (September 2015), pada pertengahan 2015, sekitar 55 persen ekonomi Rusia dikuasai negara, dan menampung 20 juta tenaga kerja, sama dengan 28 persen dari tenaga kerja di Rusia saat itu.

Ini angka tertinggi dalam 20 tahun terakhir, setelah dua gelombang privatisasi yang dilakukan pada awal dan pertengahan 1990-an.

Meskipun demikian, menurut survei dengan responden 1.608 orang yang dilakukan oleh Levada Center di Rusia, sebuah lembaga independen, bulan Mei lalu, popularitas Putin turun, menjadi 59 persen, dibandingkan sebulan sebelumnya 63 persen (CNBC, 6 Mei). 

Menurut data Statista Research Department, 2 Juli 2020, pada bulan Maret lalu, dukungan terhadap Putin 63 persen, turun satu persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Tetapi, menurut The Daily Telegraph, tingkat kepercayaan terhadap Putin akhir Juni lalu “hanya”, 54 persen, karena Covid-19.

Ketika mulai memangku jabatan yang pertama, 1999, peringkat dukungan terhadap Putin mencapai 85 persen.

Yang menarik adalah, sekalipun tingkat popularitasnya turun (Mei, 59 persen), tetapi dukungan terhadap amandemen Konstitusi 77,9 persen.

Meskipun, ada yang berpendapat bahwa pemilu itu adalah formalitas belaka.

Sebab, dua pekan sebelum pemungutan suara (25 Juni – 1` Juli), toko-toko buku di seluruh negeri sudah menjual buku Konstitusi Rusia (baru; artinya yang sudah diamandemen).

Apalagi, Parlemen, pemerintah-pemerintah daerah, dan yudikatif sudah menyetujui amandemen, sebelum pemungutan suara.

Jadi sebenarnya,  menurut Vox.com (2/7), Putin tidak membutuhkan suara rakyat untuk mengubah Konstitusi.

Putin mungkin tidak membutuhkan suara rakyat, tetapi ia menginginkan mereka  untuk melegitimasi “perebutan” kekuasaan secara konstitusional.

Ini adalah taktik para pemimpin otoriter untuk menampilkan dirinya sangat diperlukan.

Menurut Edwin Bacon, semakin lama seorang pemimpin mempertahankan kekuasaan, semakin menyatu dengan sistem.

 ‘Leaderism’ memiliki resonansi khusus dalam politik Rusia.

Selama era Soviet, leadersim adalah istilah yang peyoratif secara ideologis; untuk menggambarkan pemimpin tunggal yang dominan.

Rezim Putin bukanlah diktator totaliter Stalinis, tetapi bersifat ‘leaderist‘, karena rejim tersebut telah merebut negara dan tampaknya memperlakukannya sebagai milik pribadi.

Dua puluh tahun silam, ketika diambil sumpahnya sebagai presiden, 7 Mei 2000, andai ada pertanyaan, apakah Putin yang mantan perwira KGB itu akan menjadi penguasa Rusia selama Joseph Stalin (3 April 1922 – 16 Otkober 1952)? Tentu, tidak ada yang dengan yakin menjawabnya.

Tetapi, andaikan nanti Putin bertahan berkuasa hingga 2036, pertanyaan itu terjawab sudah.

Cerita yang hampir mirip, pernah tejadi di negeri ini.***

BACA SELENGKAPNYA KOLOM TRIAS KUNCAHYONO, KLIK: Vladimir Putin: Anggur Lama, Botol Baru

Sumber: WartaKota
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved