Berita Tangerang
Tsunami PHK Massal Gulung 25.000 Karyawan dari 800 Perusahaan di Banten
Gelombang PHK masih menghantui di Provinsi Banten. Bahkan sampai saat ini sudah ada 25.000 pegawai jadi korban akibat terjangan badai tsumami PHK.
Hal itu dialami oleh Rifki (24) warga yang mengontrak di Sukamandi, Neglasari, Kota Tangerang. Dirinya pun kelimpungan untuk menutupi kehidupannya sehari-hari.
"Saya kalau makan ya ikut di rumah saudara," ujar Rifki saat dijumpai Warta Kota di kontrakannya, Neglasari, Kota Tangerang, Jumat (1/5/2020).
Dirinya setiap harinya bekerja di kawasan Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang.
• Amerika dan Jerman Tuntut Ganti Rugi Covid-19, Hikmahanto: Tidak Mudah bagi Siapapun Gugat China
• BREAKING NEWS:Presiden AS Serang China Lagi,Tunjukkan Bukti Asal Virus Corona dari Lab Biologi Wuhan
• Polri Rombak Jabatan, 5 Polisi Terkenal & Jago Dapat Jabatan Baru, dari Direktur Sampai Kapolda
• Kabur dari Kim Jong Un, 5 Wanita Cantik Korut Sogok Petugas Perbatasan sampai Jalan di Sungai Beku
Namun terpaksa diberhentikan dikarenakan perusahaan tengah kesulitan di tengah pandemi virus corona atau Covid-19 ini.
"Ngontrak rumah bayar Rp. 800 ribu. Saya berdua sama teman. Teman kena PHK juga, dia sudah pulang kampung. Jadi saya tinggal sendiri di sini," ucapnya.
Rifki pun kini bingung untuk membayar biaya kontrakan. Sedangkan mau pulang kampung mengalami kesulitan.
"Kampung saya di Jogja, mau pulang kampung tapi susah. Di daerah saya lockdown parsial tiap Kecamatan. Jadi kalau orang yang datang masuk daftar ODP. Harus dimasukin Puskesmas dulu selama 14 hari, ribet lah harus diisolasi," kata Rifki.
• Gigi Hadid, Serena William, Bintang NFL Akan Tanding Tenis Virtual untuk Amal
Untuk makan, Rifki pun jauh - jauh mendatangi rumah sepupunya di Tanah Tinggi, Kota Tangerang. Sebab bantuan pemerintah belum didapatkannya.
"Uang dari mana, kerja saja sudah enggak. Saya makan ke Tanah Tinggi ke rumah saudara, enggak punya uang lagi," ungkapnya tampak sedih.
Belasan Tahun Bekerja Nyaman di Konveksi, Kini Meyni Terancam PHK
Sudah 18 tahun Meyni (50) berkerja di sebuah usaha mikro kecil menengah (UMKM) di KS Tubun, Slipi, Jakarta Barat. Selama itu pula ia menjadi tulang punggung untuk kedua orang tuanya.
Sejak awal wabah virus corona atau Covid-19, Meyni mengaku sudah diwanti-wanti oleh bosnnya terkait kemungkinan adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) jika situasi tidak kunjung membaik.
Selama ini Meyni memenuhi kebutuhan orang tuanya mulai dari iuran listrik, BPJS, sampai makan sehari-hari dari gajinya sebagai pekerja konveksi.
"Tapi ini saya juga bingung bagaimana kedepannya jika benar-benar di PHK. Belum ada rencana apapun sama sekali," kata Meyni ditemui di tempat bekerjanya Jumat (17/4/2020).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/buruh-tangerang-demo-imbas-phk250620203.jpg)