Jumat, 5 Juni 2026

Virus Corona

Jadi Pengobatan Alternatif Covid-19, Ini Syarat Pendonor dan Penerima Terapi Plasma Konvalesen

Berbagai pendekatan medis diinisiasi banyak pihak untuk membantu penanganan pasien positif Covid-19.

Tayang:
AFP PHOTO/CENTERS FOR DISEASE CONTROL AND PREVENTION/ALISSA ECKERT/HANDOUT
Ilustrasi COVID-19 

"Ada yang dilakukan kepada 5 pasien, 10 pasien, 6 pasien, dan bahkan yang di Korea hanya 2 pasien,” tutur Erlina.

Terapi konvalesen di Indonesia sendiri saat ini masih berada dalam tahap uji klinis kepada para pasien positif Covid-19 dengan gejala berat.

Erlina menyebutkan, beberapa rumah sakit (RS), termasuk RSUP Persahabatan, telah siap dan akan segera melakukan uji coba terkait terapi ini.

“Sudah banyak sebenarnya rumah sakit yang melakukan uji klinis (plasma konvalesen) ini, seperti RSPAD, RSCM, dan saat ini RS Persahabatan,” ungkap Dokter Spesialis Paru di RSUP Persahabatan itu.

“Proposalnya sudah lulus uji etik dan telah diumumkan juga kepada pasien-pasien (RS Persahabatan) kami, apabila terdapat sukarelawan yang ini mendonorkan kepada pasien-pasien yang sakit."

"Saat ini kami (RS Persahabatan) sudah mendapatkan beberapa orang donor."

"Sudah cukup dan menemui kecocokan antara darah dari pendonor dengan pasien kami, sehingga akan segera kami berikan,” ungkap Erlina mengenai terapi plasma konvalesen di RSUP Persahabatan.

Karena uji klinis yang dilakukan masih terbatas pada jumlah pasien yang sedikit, Erlina menyatakan pihaknya belum bisa mengambil kesimpulan yang tegas, terapi plasma konvalesen ini bisa digunakan sebagai pengobatan yang rutin kepada pasien positif Covid-19.

Meski demikian, para pakar dokter dalam satuan Gugus Tugas Nasional berharap hal ini bisa menjadi alternatif penyembuhan hingga vaksin ditemukan.

Erlina juga menegaskan, apabila terdapat alternatif pengobatan seperti terapi plasma konvalesen ini, berbagai pihak tentunya akan mendukung hal tersebut.

Namun, hal yang paling penting saat ini adalah bagaimana cara masing-masing individu melakukan tindakan pencegahan, karena Covid-19 ini masih belum ditemukan obatnya.

Oleh karenanya, ia juga kembali menggarisbawahi tindakan pencegahan dengan mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan merupakan langkah terbaik yang saat ini dapat dilakukan.

“Hal yang terpenting seharunsya adalah pencegahan, jangan sampai sakit, karena penyakit ini belum ada obatnya."

"Semua orang melakukan bermacam-macam uji klinis, tetapi yang paling penting justru dicegah jangan sampai sakit."

"Seperti yang sudah biasa kita katakan, pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, tingkatkan imunitas, sehingga yang utama adalah pencegahan,” tuturnya. (*)

Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved