Kerusuhan di AS
KERUSUHAN di AS, Facebook dan Snapchat Kecam Ketidaksetaraan Ras Usai Kematian Floyd
Facebook Inc dan Snap Inc baru-baru ini mengutuk ketidaksetaraan ras di Amerika Serikat yang merebak setelah kematian George Floyd di Minneapolis.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA- Gelombang unjuk rasa yang berujung kerusuhan besar-besaran nyaris di seantero Amerika Serikat buntut dari kematian Geoarge Floyd, masih belum menunjukkan tanda-tanda otoritas keamanan mampu meredamnya.
Pemandangan langka yang belum pernah terjadi sebelumnya adalah adanya sejumlah polisi AS yang berlutut di hadapan massa demonstran sebagai tanda penghormatan pihak keamanan kepada pengunjuk rasa.
Meski demikian, kecaman dari banyak pihak di AS masih terus bermunculan dari mana-mana.
Yang terbaru, Facebook Inc dan Snap Inc baru-baru ini mengutuk ketidaksetaraan ras di Amerika Serikat yang merebak setelah kematian George Floyd di Minneapolis.
"Kita tidak bisa mengakhiri rasisme sistemik tanpa membuat kesempatan yang sama untuk semua orang secara simultan, tidak memandang latar belakang mereka," kata CEO Snap, Evan Spiegel, lewat email untuk kalangan internal, dikutip dari Reuters.
• Anies Sebut Penyebaran Covid-19 di Jakarta Semakin Rendah Setelah DKI Keluarkan Kebijakan Ini
• Mirip Akademi Militer, Akademi Demokrat Sudah Lantik Lulusan Pertamanya, Langsung Dinas di DPR RI
• MANTAN Ketua KPK Abraham Samad Serang Kebijakan Jokowi Naikkan BPJS: Lain Gatal Lain Digaruk
Facebook dan Snapchat menyusul Intel Corp, Netflix Inc, Alphabet Inc, IBM Corp dan Nike Inc yang membuat pernyataan publik tentang kematian Floyd.
Karyawan Facebook meminta CEO Mark Zuckerberg untuk melangkah lebih tegas terhadap unggahan Presiden Donald Trump soal aksi protes di Minneapolis.
Tapi, Zuckerberg melalui unggahan mengatakan, tidak akan melakukan apa pun terhadap unggahan tersebut.
Dia menyatakan, Facebook akan memberikan dana sebesar 10 juta dollar AS untuk organisasi yang bekerja untuk isu keadilan ras.
• MAKIN Tak Terkendali, Kerusuhan di AS Makan Korban Tewas dan Toko-toko Mulai Dijarah Massa
Perusahaan teknologi besar seperti Facebook dan Google sejak lama berusaha mengakhiri diskriminasi terhadap orang Afrika-Amerika di lingkungan kerja.
Insinyur berkulit hitam masih belum terwakili di dunia kerja di AS.
Pria bertato peta Indonesia dalam unjuk rasa AS minta maaf
Sementara itu, Rainey A Backues, pria bertato peta Indonesia yang tertangkap kamera dalam unjuk rasa di Center City, Philadelphia, Amerika Serikat, mengaku menyesal dan meminta maaf.
• Masuk Tahun Ajaran Baru dengan Normal Baru di Tengah Pandemi Covid-19, Indonesia Dinilai Siap
Backues, yang bertato peta Indonesia di tangannya, tertangkap kamera pewarta foto Philadelpia Inquirer sedang melempar semacam kotak ke arah perusahaan layanan jasa finansial Wells Fargo, Sabtu (30/5/2020).