Selama Dua Pekan PSBB Tahap 2 di Kota Depok Satpol PP Catat Terjadi 2.816 Pelanggaran Tempat Usaha

“Jadi kenapa dilarang, harusnya keluar untuk memenuhi kebutuhan pokok. Kalau misal toko pakaian dan sepeda kan enggak pokok.

TribunJakarta/Dwi Putra Kesuma
Kepala Satpol PP Kota Depok Lienda Ratnanurdianny, saat djumpai di ruangannya, Rabu (13/5/2020). 

Jumlah pelanggaran yang dilakukan oleh pemilik tempat usaha dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap dua di Kota Depok mencapai lebih dari tiga kali lipat dibanding PSBB tahap pertama.

“Ada 2.816 pelanggaran, itu PSBB II dan bisa lebih karena ada tanggal yang belum dimasukan,” kata Kepala Satpol PP Kota Depok Lienda Ratnanurdianny saat dijumpai di kantornya, Pancoran Mas, Rabu (13/5/2020), seperti dilansir TribunJakarta.com.

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap II di Kota Depok selama dua pekan telah berakhir pada Selasa (12/5) kemarin.

Lienda menegaskan, peraturan tempat usaha dilarang beroperasi selama masa PSBB telah ditetapkan sejak jauh hari.

Terkecuali bagi tempat usaha yang menjual makanan, layanan kesehatan, dan beberapa lainnya.

“Jadi kenapa dilarang, harusnya keluar untuk memenuhi kebutuhan pokok. Kalau misal toko pakaian dan sepeda kan enggak pokok. Pakaian kebutuhan pokok, tapi kalau kondisinya wabah bukan menjadi hal yang pokok, bisa ditunda atau via online bisa. Yang mendesak itu kesehatan dan makanan,” paparnya.

Terakhir, Lienda menuturkan untuk PSBB tahap I jumlah pelanggran yang tercatat pihaknya ada sebanyak 800.

“PSBB I tercatat ada sebanyak 800, karena masih sosialisasi ya,” pungkasnya.

Laporkan perusak segel

Selain melakukan penindakan tegas, pihak Satpol PP Kota Depok juga membuat laporan ke polisi perihal segel penutupan toko yang melanggar PSBB yang dirusak oleh pemilik toko.

Halaman
12
Penulis: Dedy
Editor: Dedy
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved