Kolom Trias Kuncahyono

Kawan Lama

Kami berkawan sejak masih sama-sama sekolah di taman kanak-kanak. Itu artinya, perkawanan kami sudah lebih dari setengah abad. Kami tinggal di desa.

Istimewa
Ilustrasi 

Pepatah mengatakan “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.” Apakah nama baik atau nama buruk yang ditinggalkan? Tergantung orangnya.

Dalam cerita orang kaya dan Lazarus, yang dikenal orang hanya Lazarus. Sementara orang kaya yang pelit, tak memiliki belarasa, misericordia (belas-kasihan), kemurahan, kedermawanan terhadap Lazarus yang miskin, sama sekali tidak dikenal namanya.

“Sekarang ini, untuk bisa dikenal, terutama dikenang karena rasa belarasanya, kedermawanannya, kemurahan hatinya yang tinggi, atau karena uripe urup, sangat mudah. Yakni dengan mendermakan kekayaannya, harta miliknya untuk membantu pemerintah mengatasi pandemi Covid-19, membantu mereka yang kehilangan pekerjaan, mereka yang kehilangan gantungan hidupnya, apalagi setelah nanti pandemi ini berhasil diatasi.

Bukan justru sebaliknya, menutup pintu rapat-rapat rumah-rumah mewah mereka, dan benar-benar nggak peduli pada dunia luar, pada penderitaan orang lain,” katanya serius.

Banyak contoh di tingkat internasional. Dua bintang sepak bola dunia, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, mendonasikan bantuan untuk melawan Covid-19.

Langkah serupa juga dilakukan legenda tenis dunia Roger Federer. Orang-orang kaya dunia pun, seperti Bill Gates, Elon Musk, Jack Ma, Jack Dorsey, Jeff Bezos, James Dyson, Marc Benioff,  dan Mark Zuckerberg, sekadar menyebut nama, merelakan harta mereka untuk membantu melawan Covid-19.

Memang, orang-orang kaya, para konglomerat, para pesohor di negeri ini juga sudah ada yang melakukan hal yang sama. Tetapi, mungkin masih ada yang belum atau mungkin mereka tidak berteriak-teriak.

 “Mungkin mereka membantu tetapi diam-diam saja. Karena mengikuti kata-kata bijak, ‘selagi memberi sedekah, jangan biarkan tangan kirimu mengetahui apa yang tangan kananmu lakukan, sehingga sedekahmu itu ada dalam ketersembunyian, dan Gusti Allah yang melihat dalam ketersembunyian, akan membalas dalam keterbukaan’,” katanya sambil menambahkan,

“Tetapi, semoga semakin banyak yang terketuk hatinya untuk membantu sesama, yang memang membutuhkan bantuan.”

“Semoga,” komentar saya pendek.

“Kita semua tahu, saat ini dunia dalam keadaan perang. Bukan perang agama. Sebab, bukankah semua agama menginginkan perdamaian. Dunia berada dalam keadaan perang, karena hilangnya perdamaian. Perdamaian bisa hilang bukan hanya karena perang, melainkan juga karena korupsi, ketidakadilan, diskriminasi rasial, perbenturan kepentingan, kebodohan, perdagangan manusia, kemiskinan dan ketidakpedulian terhadap sesama. Saat ini rasanya kepedulian sosial, kepedulian kepada sesama, sangat dibutuhkan. Kita harus berpikir, bersikap, berkata dan berbuat menurut prinsip solidaritas, artinya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing hidup berbelarasa dengan sesame. Bukankah begitu?” katanya.

Lalu ia tertawa lepas, seperti biasanya. Dan, akhirnya ia mengatakan, “Wis yo, aku wis ngantuk. Aku sudah ngantuk.”

“Baik, terima kasih. Selamat malam dan istirahat,” jawab saya sambil membatin, “Kamu, kawan lamaku yang baik hati, selalu mau berbagi ilmu.” ***

Sumber: Kawan Lama

https://triaskun.id/2020/05/09/kawan-lama/

Sumber: WartaKota
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved