Kolom Trias Kuncahyono
Kawan Lama
Kami berkawan sejak masih sama-sama sekolah di taman kanak-kanak. Itu artinya, perkawanan kami sudah lebih dari setengah abad. Kami tinggal di desa.
Menurut kata-kata bijak, “Alter ego est amicus, cuncta mecum habet communia, sahabat adalah diriku yang lain, dengannya semua menjadi milik bersama.” Begitulah kami.
Belum lama ini, di tengah-tengah sepak-terjang Covid-19 yang nggegirisi (sangat menakutkan) itu, kami berkomunikasi lewat video calling.
Ia membongkar kembali pengalaman masa kecil kami, ketika masih hidup dan tinggal di desa.
Yang ia ceritakan tentang betapa kuatnya rasa persaudaraan penduduk desa, pada masa lalu. Mereka guyub, rukun, saling tolong menolong, dan memegang prinsip hidup gotong-royong, toleran, saling hormat-menghormati walau berbeda keyakinan dan agama, beda kelas sosial.
Dulu di desa ada istilah sambatan, tolong-menolong.
“Tahu enggak, mengapa bisa seperti itu di masa lalu?” katanya.
”Mengapa?” tanya saya pendek.
“Di masa lalu, hal itu bisa terjadi, barangkali karena masih kuatnya rasa di antara penduduk desa bahwa orang tidak bisa hidup sendiri. Mereka menyadari bahwa dalam hidup, seseorang membutuhkan bantuan orang lain,” jelasnya.
Sebelum saya berkomentar, ia sudah mengatakan, “Salah satu karya penyair John Donne adalah ‘No Man is an Island’.
Dua baris pertama puisi itu berbunyi, ‘No man is an island/ entire of itself/ every man/ ia a piece of the continent/ a part of the main.’ “
Lalu ia menambahkan, “Jauh sebelumnya, sejarawan Romawi, Gaius Sallustius Crispus (86 SM-34 SM), sudah mengatakan, alterum alterius auxilio est, seseorang membutuhkan bantuan orang lain.”
Ia lalu mengatakan bahwa John Donne adalah seorang penyair asal Inggris yang hidup antara tahun 1572-1631.
“Memang, orang tidak bisa hidup sendiri. Tak mempedulikan orang lain. Mengucilkan diri di suatu tempat, seperti pulau yang jauh dari utara dan selatan,” komentar saya singkat.
Dengan cepat ia menyambung, “Ya, karena setiap orang menyadari akan perlunya orang lain. Maka kalau ada tetangga yang kesulitan, kerepotan, dirundung duka, tertimpa kemalangan, dahulu orang di desa kita biasanya akan segera membantu.
Bantuan akan diberikan secara tulus, tanpa mengharapkan imbalan. Bukan memberikan bantuan dengan memegang prinsip do ut des, saya beri agar engkau memberi.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/trias-0905.jpg)