TBC
Waspadai Pandemi Covid-19, Tetapi Jangan Abaikan Ancaman TBC
Setiap pagi Rina berangkat dan pulang kerja menggunakan motor dengan jarak tempuh 10 km. Suatu hari ia merasa sesak nafas dan sering batuk.
Penulis: Budi Sam Law Malau |
Pengobatan penyakit TBC tentu membutuhkan biaya besar terutama jika kondisi penyakit pasien sudah dalam tahapan kronis.
Oleh karena itu, hidup sehat dan bersih haruslah menjadi gaya hidup.
Selain soal kesehatan, penting juga kita memiliki kemampuan mengelola risiko, yaitu bagaimana pendapatan yang diperoleh tidak hanya habis untuk membiayai kebutuhan hidup namun mampu melipat kekayaan dan mempercepat pertumbuhannya.
Menurut Agency Development Manager Henry Kurniawan, kemampuan mengelola risiko artinya, pendapatan yang kita miliki dikelola sedemikian rupa agar dapat meredam dan meminimalisir risiko ekonomi jika terjadi hal tak terduga, seperti sakit kritis, salah satunya TBC.
Sebesar apapun pendapatan, tidak akan cukup jika harus memenuhi semua kebutuhan, keinginan, dan risiko tak terduga lainnya, seperti mengobati anggota keluarga yang sakit apalagi penyakit yang bersifat menahun, dapat kambuh, atau penyakit kritis.
"Kita memerlukan asuransi kesehatan yang berguna untuk mengalihkan risiko ekonomi menyangkut pembiayaan pengobatan medis. Maksudnya adalah, ketika harus dirawat di rumah sakit dan membutuhkan biaya pengobatan maka perusahaan asuransi yang akan membayar pengobatan tersebut sesuai yang tercantum dalam buku polis,” kata Henry.
Bahkan, tambah Henry, dengan memiliki asuransi kesehatan dengan berbasis unit link (menjadi asuransi tambahan pada asuransi jiwa), pencari nafkah memiliki perlindungan atas nilai ekonomis dirinya bagi keluarga.
Yang selama ini bergantung hidup padanya karena jika terjadi risiko kematian ada sejumlah Uang Pertanggungan (UP) yang berguna untuk menggantikan sementara.
Nilai ekonomis pencari nafkah sehingga keluarga yang ditinggalkan dapat bertahan hidup.
Pertanyaanya, jika sudah pernah mengidap TBC apakah masih dapat membeli asuransi kesehatan? Dr. Fridolin mengatakan, bisa saja membeli asuransi kesehatan walau memiliki riwayat penyakit TBC asalkan calon nasabah telah menjalani pengobatan sesuai petunjuk dokter yang dibuktikan dengan surat bahwa kondisinya sudah sehat.
"Dan hasil rekam medis terbaru dari dokter sebagai bukti bahwa pengobatan TBCC sudah selesai dijalani," kata dia.
Namun demikian, katanya perusahaan asuransi juga akan mempertimbangkan jenis penyakit TBC yang pernah diidap pasien karena penyakit TBC banyak jenisnya dan berpotensi menyerang seluruh organ tubuh, seperti TBC kelenjar, TBC tulang, TBC usus, TBC ginjal, TBC selaput otak.
“Misalkan pada pasien TBC paru-paru harus menunjukkan bukti hasil rontgen dada, tes fungsi paru-paru, dan pemeriksaan fisik dokter. Dari hasil rekam medis tersebut akan diputuskan apakah paru-paru pasien masih berfungsi normal sehingga bisa mendapatkan perlindungan asuransi,” paparnya.
Dengan memiliki asuransi kesehatan akan memudahkan masyarakat menjalani pengobatan, tetapi ia tetap menyarankan agar masyarakat melakukan pencegahan terjadinya TBC.
Karena, dengan memiliki kesehatan yang baik serta dijaga oleh asuransi kesehatan, maka kita berkesempatan meraih hari esok yang baik.
Dengan mencegah penularan TBC, berarti kita mendukung program pemerintah Indonesia untuk mengeliminasi TBC menuju Indonesia Bebas TBC pada 2030.