Kolom Trias Kuncahyono
Kuda Troya dari Suriah
Mereka menanggap bahwa patung kuda itu kosong; menganggap bahwa ISIS sudah mati di Suriah dan Irak.
Rata-tata setiap bulan pada tahun 2015 penghasilannya, menurut “The Washington Institutefor Near East Policy”, mencapai 70 juta dollar AS
Akan tetapi, menurut Mattisan Rowan dalam ISIS After the Caliphate (28 November 2017), sejak November 2017, ISIS berantakan setelah kehilangan 98 persen daerah kekuasaanya.
Lebih dari 60.000 petarungnya tewas dan lebih dari 130 pemimpin diakhiri hidupnya. Dan, pendapatan ISIS juga merosot — menjadi 16 juta dollar AS sebulan pada 2017.
ISIS kehilangan dua “harta” terpentingnya: Mosul, kota terbesar kedua di Irak pada bulan Juli dan Raqqa, ibu kota de facto ISI yang terletak di Suriah bagian utara.
Karena itu, ketika pada tahun 2014, ISIS berhasil merebut dan mengusai Mosul—yang kemudian dijadikan pusat kekuasannya dengan Abu Bakr al-Baghdadi yang menyatakan dirinya sebagai Khalifah Ibrahim—oleh Oleh Lina Khatib dalam What the Takeover of Mosul Means for ISIS (2014), disebut sebagai kemenangan moral dan taktis bagi ISIS.
Akan tetapi, waktu itu, Lina Khatib sudah memperingatkan negara-negara Barat dan Arab untuk mengubah kebijakan mereka atas Suriah dan Irak, sebelum bola salju ISIS berubah menjadi teroris internasional.
Yang disampaikan Lina Khatib menjadi kenyataan. Dari kota ini, tangan-tangan ISIS menggerayangi Irak dan kemudian Suriah; menebarkan kematian.
Tetapi, dari kota ini pula ISIS menarik para petarung dari berbagai negara di dunia ini, termasuk dari Indonesia.
Dengan berhasil merebut Mosul—yang merupakan kemenangan taktis penting—ISIS memiliki akses untuk mendapatkan uang lebih banyak.
Menurut berita yang beredar ketika itu, mereka lalu menyerbu bank sentral di kota itu dan menjarah uang negara senilai lebih dari 400 juta dollar AS.
Mereka juga berhasil merebut kendaraan lapis baja dan senjata dari tentara Irak. Dan, banyak lagi lainnya yang membuat mereka makin kuat dan percaya diri untuk terus memperluas wilayah kekuasaannya dengan jalan kekerasan. Namun, tahun 2017, kekuatan mereka di Mosul, berakhir sudah.
Sementara Raqqa, di Suriah bagian utara, dikuasai ISIS pada bulan Maret 2013. Meskipun Raqqa, mungkin secara strategis tidak begitu penting bagi ISIS, seperti daerah-daerah lainnya, akan tetapi, direbutnya kembali kota itu oleh milisi dukungan AS, tetap merupakan pukulan bagi ISIS. Sebab, Raqqa adalah simbol bagi ISIS yang telah menjadikan kota itu sebagai ibu kota de facto kelompok bersenjata ini. Raqqa menjadi pusat pemerintahan, pengadilan, dan biro-biro resmi ISIS. Tetapi, kepemimpinan tertinggi tidak di kota ini, dan perumusan strategi dan kebijakan ISIS juga tidak di kota ini. Meski demikian, hilangnya Raqqa dari genggaman tangan kekuasaan mereka tetap dapat dikatakan bahwa “proyek kekhalifahan” ISIS yang dimaklumkan di Mosul pada Juni 2014, menemui titik nadir.
Bagaikan Lebah
Ketiga peristiwa (pukulan) itu yang telah menjadikan para anggota ISIS bagaikan lebah yang dihancurkan sarangnya.
Mereka terbang ke segala penjuru; dengan membawa serta sengatnya yang berada di ujung pantatnya. Karena itu, menurut Lina Khatib, ISIS akan mengikuti jejak al-Qaeda setelah digempur habis-habis oleh AS dan pemimpin mereka, Osama bin Laden, dibunuh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/pejuang-isis-di-sebuah-kamp-pelatihan.jpg)