Kolom Trias Kuncahyono
Kuda Troya dari Suriah
Mereka menanggap bahwa patung kuda itu kosong; menganggap bahwa ISIS sudah mati di Suriah dan Irak.
Mereka membentuk franchises al-Qaeda, di berbagai tempat, negara dan masing-masing menentukan prioritasnya sendiri-sendiri.
Artinya, narasi melakukan serangan balasan, dalam berbagai bentuk, cara, dan kekuatan, tetap masih tetap hidup.
Apalagi, menurut perkiraan Pentagon, dua wilayah kedua negara itu—Suriah dan Irak—ISIS meski sudah hancur-hancuran masih memiliki kekuatan antara 14.000 hinggga 18.000 anggota, yang 3.000 orang di antaranya adalah petarung asing (The Christian Science Monitor, 28 Oktober 2019), termasuk dari Indonesia.
The International Center for the Study of Radicalisation (ICSR) di King’s College London memperkirakan bahwa 41.480 orang–termasuk 4.761 wanita dan 4.640 anak-anak–dari 80 negara berafiliasi dengan ISIS.
Beberapa tewas karena yakin akan ide-ide mereka. Yang lain berubah pikiran dan berhasil pulang untuk menghadapi keadilan.
Orang asing yang bertahan dan bertahan sampai akhir, sampai ISIS berhasil dibabat. Mereka ini adalah pendukung ISIS yang paling bersemangat. Anak-anak di bawah umur dari luar Suriah dan Irak, menurut para peneliti, “memiliki komitmen ideologis dan keterampilan praktis untuk menimbulkan potensi ancaman saat kembali ke negara asal mereka” (The Christian Science Monitor, 26 April 2019).
Dan seperti al-Qaeda sebelumnya, ISIS juga kemungkinan akan meningkatkan pendukungnya di seluruh dunia untuk terlibat dalam serangan oportunistik sebagai cara untuk menegaskan kehadirannya.
Ini menjadi semakin mungkin karena ISIS sering menggunakan serangan oportunistik seperti itu sebagai cara untuk mengkompensasi hilangnya wilayah di Irak dan Suriah.
Mereka akan tetap menggunakan sosial media untuk terus berkampanye termasuk merekrut para petarung baru.
Peringatan akan tetap adanya ancaman dari ISIS setelah kehancurannya di Suriah dan Irak, pernah disampaikan oleh Direktur Dinas Keamanan Federal (FSB) Rusia Aleksandr Bortnikov (RT, 4 Oktober 2017).
Menurut Bortnikov, mereka bergerak ke luar Suriah dan Irak, dan kemudian membangun pijakan di Afganistan. Dari Afganistan mereka meluaskan jangkauan tangannya ke India, China, Iran, dan Asia Tengah. Selain itu juga ke Yaman, Afrika, dan Asia Tenggara.
Ancaman ISIS, menurut Bortnikov tidak hanya pada dunia nyata, melainkan juga online, maya. Selain terus menyebar-luaskan propaganda dan merekrut pengikut-pengikut baru, mereka juga membentu “divisi-divisi cyber” baru, yang dapat digunakan untuk menyerang infrastruktur-infrastruktur penting.
“United States Institute of Peace Woodrow Wilson Center” (Desember 2016/Januari 2017) mengungkapkan, pada bulan November 2016, Baghdadi secara khusus menyerukan kepada “tentara-tentaranya” di luar Irak dan Suriah untuk bergerak dan bertindak di Aljazair, Semenanjung Arabia, Bangladesh, Kaukasus, Mesir, wilayah Khorasan (Afganistan dan Pakistan), Libya, Filipina, Sinai, Somalia, Tunisia, Afrika Barat, Yaman, dan Indonesia.
Seruan aksi tersebut merupakan bagian dari lima proses untuk menguasai wilayah dan membangun negara, kekhalifahan versi mereka.
Kelima proses itu, menurut majalah Dabiq (yang pertama kali diterbitkan oleh ISIS pada bulan Juli 2014) antara lain membangun basis-basis gerakan di negara-negara lemah, merekrut anggota-anggota baru, dan menciptakan khaos.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/pejuang-isis-di-sebuah-kamp-pelatihan.jpg)