Jumat, 10 April 2026

Hari Guru

Hari Guru Nasional, Pidato Lengkap Nadiem Makarim Tegaskan Tugas Guru Tersulit dan Termulia

Tidak ingin berbasa-basi dan mengagungkan pahlawan pendidikan terdahulu, Nadiem mencurahkan isi hatinya lewat pidato Peringatan Hari Guru Nasional

Editor: Dwi Rizki
TRIBUNNEWS/SENO TRI SULISTIYONO
Pendiri dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim datang ke Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/10/2019), jelang pengumuman kabinet. 

Tidak ingin berbasa-basi dan mengagungkan para pahlawan pendidikan terdahulu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim mencurahkan isi hatinya lewat pidato Peringatan Hari Guru Nasional.

Pidato yang seharusnya dibacakan pada Hari Guru Nasional yang jatuh pada hari ini, Senin (25/11/2019) itu justru viral dan menggugah para guru di pelosok Nusantara.

Bukan karena mendayu-dayu dengan penuh pengharapan, naskah pidato Nadiem Makarim itu dinilai menyentuh hati lantaran ditulis apa adanya.

Dalam pembukanya, Nadiem Makarim justru meminta maaf karena tidak melanjutkan kebiasaan yang umumnya disampaikan dalam peringatan Hari Guru Nasional.

Hari Guru 2019, Disdik DKI Luncurkan Aplikasi Untuk Permudah Guru Urus Kenaikan Pangkat

Dirinya mengaku lebih ingin berbicara apa adanya ketimbang menyampaikan kalimat retorika yang inspiratif dan memacu semangat.

Menurutnya, tugas seorang guru adalah tugas yang paling mulia sekaligus tersulit dibandingkan dengan profesi lainnya di dunia ini.

Guru katanya harus dapat membentuk anak didik yang merupakan masa depan bangsa, tetapi dengan pertolongan yang minim.

Begitu juga dengan kurikulum dan regulasi yang ada saat ini, guru diungkapkan Nadiem tidak dapat membantu ketertinggalan siswa didiknya lantaran disibukkan dengan tugas administratif.

"Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan. Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas," ungkap Nadiem dalam naskah pidato.

"Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan. Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan," jelasnya.

Tidak hanya itu, kesempatan guru untuk berinovasi pun tertutup dengan beragam regulasi, padahal setiap guru berharap dapat menjadil model bagi para anak didiknya.

"Anda frustasi karena anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal. Anda tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi," jelas Nadiem.

"Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi," tambahnya.

Atas kenyataan pahit tersebut, Nadiem mengaku tidak akan muluk berjanji.

Perubahan katanya akan dihadirkannya dan dipastikan akan merubah kenyamanan.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved