Ekspedisi Citorek Negeri di Atas Awan
Mengintip Jejak Eduard Douwes Dekker di Museum Multatuli
Sangking fenomenalnya, karya ini telah diterjemahkan ke 40 bahasa di dunia bahkan difilmkan.
Penulis: Feryanto Hadi | Editor: AchmadSubechi
Kami sempat diajak Ubaidillah Muchtar selaku Kepala UPT Museum Multatuli untuk melihat rumah yang sudah puluhan tahun terakhir mangkrak.
Pada 2016, Multatuli Genootschap menghibahkan ubin tersebut kepada Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya pada sebuah kunjungan di Amsterdam, Belanda.
Sedangkan satu ubin berwarna hitam kini tersimpan di Multatuli Huis, Amsterdam. Selain ubin, ada koin kuno dari tahun 1857 dan alat giling kopi kuno.
Di sisi luar gedung utama museum, kita juga bisa melihat patung Multatuli, Saidjah dan Adinda karya pematung terkemuka jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Dolorosa Sinaga.
Saat kami berkunjung, sejumlah murid dari SDN 01 Rangkas Bitung Barat tengah asyik berkumpul di tempat itu.
***
MULTATULI yang memiliki arti "aku telah banyak menderita merupakan nama pena dari Eduard Douwes Dekker yang bertugas sebagai Asisten Residen Lebak sejak 22 Januari sampai dengan April 1856.
Hati kecilnya bergejolak ketika menyaksikan penerapan sistem tanam paksa oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda terhadap kaum pribumi.
Ia menyaksikan bagaimana orang-orang mengalami penderitaan, kekacauan hidup dan rasa trauma mendalam akibat terkungkung oleh aturan di luar rasa kemanusiaan.
Pria kelahiran Amsterdam, Belanda, 2 Maret 1820 itu lama-lama tidak tahan melihat kekejaman sistem tanam paksa yang hanya menimbulkan penderitaan bagi rakyat.
Alasan itulah yang membuatnya mengundurkan diri dari jabatannya. Ia amat kecewa dengan penindasan dan kekejaman yang dilakukan penguasa lokal maupun kolonial terhadap rakyat Banten, khususnya Lebak.
Ia kemudian mengisahkan kegelisahannya melalui karya berjudul Max Havelaar yang kemudian mampu menggemparkan dunia dan berdampak besar bagi 'gaya penjajahan' selanjutnya.
Sangking fenomenalnya, karya ini telah diterjemahkan ke 40 bahasa di dunia bahkan difilmkan.
Tak hanya itu. Selepas masa tugasnya, ia juga memberanikan diri mengirimkan surat kepada Raja Willem III.
Surat yang turut ditampilkan di Museum Multatuli itu memuat protes terhadap situasi di tanah jajahan yang pernah dialaminya serta pemberitahuan perihal naskah buku Max Havelaar yang akan terbit.
Dalam surat ini, ia memohon agar Raja Willem III memberikan perhatian lebih kepada Hindia Belanda yang dikelola sembarangan dan banyak merugikan rakyat
Tajamnya pena Multatuli pun membuahkan hasil. Belanda kemudian menerapkan Politik Etik dengan mendidik kaum pribumi elite, sebagai upaya 'membayar' utang mereka pada pribumi.
Eduard Douwes Dekker tercatat meninggal di Rhein, Jerman, 19 Februari 1887, pada usia 66 tahun. (Feryanto Hadi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/museum-multatuli1.jpg)