Minggu, 7 Juni 2026

Ekspedisi Citorek Negeri di Atas Awan

Mengintip Jejak Eduard Douwes Dekker di Museum Multatuli

Sangking fenomenalnya, karya ini telah diterjemahkan ke 40 bahasa di dunia bahkan difilmkan.

Tayang:
Penulis: Feryanto Hadi | Editor: AchmadSubechi
Warta Kota
Patung Multatuli, Saidjah dan Adinda karya pematung terkemuka jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Dolorosa Sinaga. (Foto: Achmad Subechi) 

'Tugas Seorang Manusia Adalah Menjadi Manusia'. Kalimat itu tertulis besar di dinding dan segera terbaca ketika kami masuk ke area museum.

Di ruang Selamat Datang itu juga terdapat mozaik wajah dari potongan akrilik serta patung wajah Multatuli.

Sayup-sayup terdengar suara musik dari property multimedia, memberikan sensasi lain berada di museum itu.

Kami melangkah ke ruang selanjutnya. Ruang kedua ini dinamakan Ruang Kolonialisme, mengisahkan masa awal kedatangan penjelajah Eropa ke Nusantara, khususnya ke Banten.

Pada ruang ketiga, menyajikan situasi tanam paksa melalui sketsa yang terangkai dalam dinding ruangan.

Memahami visual itu, mudah merasakan bagaimana tersiksanya masyarakat Lebak masa itu ketika harus menjadi pesuruh di tanah sendiri.

Orang-orang kolonial memeras tenaga mereka, mengiris perasaan mereka, hingga menimbulkan dampak luar biasa di berbagai aspek kehidupan.

Keempat, adalah ruang Multatuli dan situasi Lebak pada saat ia menjabat sebagai Asisten Residen Lebak.

Pada ruangan ini terdapat koleksi buku Max Havelaar asli yang didatangkan dari Belanda.
Kelima adalah ruang Banten yang menceritakan gerakan perlawanan rakyat Banten terhadap penjajah.

Diceritakan pula situasi politik Banten saat itu, termasuk dinamika yang terjadi.
Keenam adalah Ruang Lebak yang menceritakan perkembangan kabupaten ini dari masa ke masa, mulai dari awal terbentukya Kabupaten Lebak, potensi ekonomi termasuk kisah warga Lebak yang turut dibawa ke Suriname dan dipekerjakan sebagai buruh Tebu.

Sedangkan ruang ke tujuh adalah Ruang Rangkasbitung atau ruang temporary.
                                                                  ***

MUSEUM ini juga menampilkan koleksi benda penting peninggalan Eduard. Salah satunya ubin rumah dinas asisten residen Lebak yang pernah ditempatinya.

Ubin ini, bersama dengan satu ubin lain berwarna hitam, sempat berada di Belanda setelah pada 1987, seorang wartawan asal Belanda, Arjan Onderdenwijngard, membawanya dari Rangkas Bitung.

Saat itu, Arjan datang ke Rangkasbitung untuk menelusuri jejak Multatuli.  Dia menemukan dua ubin itu tak jauh dari reruntuhan rumah dinas Multatuli.

Rumah dinas yang dimaksud saat ini berada di area Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Adjidarmo Raskasbitung, berjarak sekitar 500 meter dari Museum Multatuli.

Sumber: WartaKota
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved