Wakil Menteri Agama: Radikalisme, Manipulator, Atau Perusuh Agama Harus Ditolak Ramai-ramai!
PRESIDEN Joko Widodo sempat melontarkan pernyataan ingin mengganti istilah radikalisme dengan manipulator agama.
PRESIDEN Joko Widodo sempat melontarkan pernyataan ingin mengganti istilah radikalisme dengan manipulator agama.
Menanggapi hal itu, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid setuju dengan niatan Jokowi tersebut.
Ia meminta niatan Presiden agar dipahami sebagai semangat mengerti agama dalam konteks yang sebenarnya.
• Jadi Ketua Umum PSSI, Iwan Bule: Ini Berkat Doa Ibu Saya
"Saya kira itu yang harus dipahami adalah semangat Bapak Presiden memahami agama itu dalam konteks yang benar," ucapnya di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (3/11/2019) pagi.
Dia menjelaskan, agama sejatinya memang hadir untuk digunakan memberi kedamaian, rasa kasih sayang, serta semangat mempersatukan.
Maka, salah jika yang terjadi malah kebalikannya, yakni upaya memecah belah sebuah bangsa.
• Dipolisikan Fahira Idris, Ade Armando: Harusnya Anies Baswedan yang Tersinggung
"Karena benar agama itu hadir untuk memberikan kedamaian."
"Agama hadir untuk memberikan kasih sayang, agama hadir untuk mempersatukan kita, bukan memecah belah kita," tutur Zainut.
Namun lanjut Zainut, apa pun istilah yang dipakai, baik itu manipulator agama, radikalisme, atau malah perusuh agama, segala tindakan yang punya tendensi memecah belah persatuan bangsa, sudah semestinya ditolak beramai-ramai.
• Pimpin PSSI, Mampukah Iwan Bule Bawa Indonesia ke Piala Dunia 2024 dan Olimpiade 2032?
"Apa pun istilahnya, apakah itu manipulator agama atau perusuh agama, perusuh yang menciptakan situasi yang bisa mencerai beraikan bangsa Indonesia, itu harus kita tolak bersama," tegasnya.
Sebelumnya, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI) Amirsyah Tambunan mengatakan, usulan istilah radikalisme diganti manipulator agama kurang tepat.
Terlebih, penggunaan istilah manipulator agama ditujukan bagi orang yang memiliki paham radikal.
"Manipulator agama itu menurut saya kurang tepat digunakan, diksi yang kurang tepat. Kenapa?"
• Jokowi Usul Istilah Radikalisme Diganti dengan Manipulator Agama, Setuju?
"Karena sebenarnya setiap orang beragama itu pasti ingin mencapai kebahagiaan, kedamaian, ketenangan, kerukunan," ujar Amirsyah saat dihubungi, Jumat (1/11/2019).
"Nah, orang yang melakukan manipulasi terhadap agama adalah orang yang tentu punya niat, cara, dan praktik beragama yang tidak baik."
"Itulah sesungguhnya yang harus kita cegah," sambungnya.
• Ini Deretan Artis yang Terima Mobil dan Uang Hasil Korupsi Wawan, Cuci Uang Hingga Rp 579 Miliar
Sementara, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad angkat bicara terkait usulan Jokowi mengubah istilah radikalisme menjadi manipulator agama.
Menurutnya, Komisi III DPR akan berkoordinasi dengan ahli tata bahasa mengenai istilah yang tepat untuk menggambarkan sejumlah aksi radikal di Indonesia.
"Karena kita juga di Komisi III kan lagi coba berkoordinasi dengan ahli bahasanya sebenarnya, apa kata yang tepat."
• Senang Prabowo Masuk Pemerintahan, Kivlan Zen: Saya Dukung Sepenuhnya
"Karena itu kan penjabarannya juga rumit," Kata Dasco di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, (1/11/2019).
Dasco mengaku belum bisa berkomentar terlalu jauh terkait istilah tersebut.
Ia belum mengetahui maksud yang disampaikan Presiden, dan belum mengetahui isitilah yang tepat untuk mengganti kata radikalisme.
• Masuk November 2019, Puting Beliung, Hujan Es, dan Angin Kencang Mengintai
"Ya saya tahu bahwa itu ada apa namanya, istilah-istilah yang diberikan kepada presiden. Saya pikir nanti, saya belum bisa komentar," tuturnya.
Sebelumnya, masalah radikalisme yang meluas di Tanah Air, turut menjadi perhatian Presiden Jokowi.
Dalam rapat terbatas (ratas) pada Kamis (31/10/2019) kemarin, Jokowi meminta jajarannya melakukan upaya serius mencegah radikalisme.
"Harus ada upaya yang serius untuk mencegah meluasnya, dengan apa yang sekarang ini banyak disebut mengenai radikalisme," ujar Jokowi di Kantor Presiden, Jakarta.
• Segera Jadi Kapolri, Idham Azis Bakal Serahkan Kasus Novel Baswedan kepada Kabareskrim Baru
Dalam kesempatan yang sama, Jokowi melempar wacana agar mengubah istilah gerakan radikalisme dengan sebutan 'manipulator agama'.
"Atau mungkin enggak tahu, apakah ada istilah lain yang bisa kita gunakan selain radikalisme, misalnya manipulator agama," ucap Jokowi.
Soal tindak lanjut hal itu, Jokowi menyerahkan kepada Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, untuk mengoordinasikannya.
• Gerindra: Harta Prabowo Rp 1 Triliun, Masa Gaji Seuprit Diambil?
Sebelumnya diberitakan Wartakotalive, Syahril Alamsyah alias Abu Rara (31), penikam Menkopolhukam Wiranto, diduga terpapar paham radikalisme.
Bahkan, Abu Rara turut mempengaruhi istrinya yang masih muda, FA (21) untuk ikut menyerang Wiranto.
Lantas, apakah pemerintah bakal mengevaluasi program deradikalisasi yang selama ini dilakukan di sejumlah daerah untuk menangkal radikalisme?
• UU ITE Tak Melarang Buzzer, Menkominfo Ogah Tanggapi Pernyataan Moeldoko
Menjawab itu, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, pihaknya selama ini terus berupaya menyosialisasikan, dan menebarkan perspektif pemahaman moderasi beragama.
"Jadi bukan agamanya yang dimoderasi, karena agama itu pastilah sempurna karena datangnya dari Tuhan."
"Tapi cara kita beragama, cara kita memahami, cara kita mengamalkan agama, itulah yang kita moderasi," ujarnya seusai menjenguk Wiranto di RSPAD, Jakarta Pusat, Kamis (10/10/2019) malam.
• Polwan yang Terafiliasi dengan JAD Bakal Dipecat, Terpapar Paham Radikal dari Media Sosial
"Dimoderasi dalam artian jangan sampai terjebak atau terperosok pada pemahaman atau tindakan yang berlebihan atau ekstrem."
"Tapi lawannya, harus senantiasa moderat. Jadi ini yang terus diupayakan Kementerian Agama dan seluruh ormas keagamaan," tambahnya.
Rabu (9/10/2019) lalu, Kemenag meluncurkan buku Moderasi Beragama.
• Ketua MPR Minta Mahasiswa Tak Unjuk Rasa pada 20 Oktober, Demi Kepentingan Bangsa yang Besar
Buku ini dinilai penting dibaca publik dan para pengambil kebijakan dalam rangka memperkuat jati diri masyarakat.
Terutama, dalam memahami fenomena radikalisme.
Karena, radikalisme bukan representasi mayoritas umat beragama di Indonesia yang dikenal ramah, santun, serta toleran.
• Mendikbud: Karaoke Berjam-jam Bisa, Nyanyi Indonesia Raya Tiga Stanza Protes
Buku ini juga bagian dari cara pencegahan radikalisme.
Buku tersebut juga memuat tentang kajian konseptual, pengalaman empirik, strategi penguatan, dan implementasi moderasi beragama.
Disinggung soal pelaku yang mengatasnamakan agama untuk menusuk Wiranto, Lukman meluruskan tentunya setiap agama mengajarkan kebaikan, menghargai harkat dan martabat manusia.
• IBU Ini Menangis Histeris Bangunkan Anaknya yang Tewas Kesetrum: Jangan Ambil Arfan Ya Allah!
"Itulah kenapa setiap agama menolak cara kekerasan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang ada:"
"Karena setiap agama pasti mengajak terwujudnya kedamaian dengan menebarkan kasih sayang," paparnya.
Sementara, Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) menyatakan prihatin atas penikaman Wiranto di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019).
• Edy Rahmayadi Semprot ASN Sumut: Angkat Kursi Lama Kali, Macam Anak TK Aja Kalian
Ketua PBNU Robikin Emhas meminta agar kejadian tersebut tak dikaitkan dengan agama tertentu, apalagi Islam.
Polri menyatakan pelaku penusukan diduga terpapar paham ISIS.
Ketua PBNU Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyampaikan, motif penusukan oleh mereka yang terpapar ISIS adalah pejabat publik dan polisi.
• BEDA Kronologi Penganiayaan Ninoy Karundeng Versi PA 212 dan Korban, Siapa yang Benar?
"Segala macam tindakan kekerasan bukan merupakan ajaran. Oleh karena itu jangan ada yang mengaitkan dengan agama."
"Jangan ada yang mengaitkan dengan Islam. Karena Islam adalah agama damai, rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin)," kata Robikin di Jakarta, Kamis (10/10/2019).
Islam, ia menambahkan, mengutuk segala bentuk kekerasan.
• Dicecar 20 Pertanyaan Nyaris 12 Jam, Munarman Mengaku Tak Tahu Penganiayaan Ninoy Karundeng
Bahkan, tidak ada satu pun agama di dunia ini yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam mencapai tujuan.
"Untuk itu, saya mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut cepat dan tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut," paparnya.
Ia menilai, dengan adanya kejadian tersebut, ketenangan masyarakat, bahkan negara, terusik.
• Dua Orang yang Menolong Jadi Tersangka Kasus Kematian Advokat Walhi Sumut Golfrid Siregar
"Pak Wiranto selaku Menkopolhukam RI merupakan pengemban amanah di bidang keamanan negara."
"Sehingga yang diserang adalah simbol negara. Itu artinya, yang diserang hakikatnya adalah keamanan negara, keamanan masyarakat," tuturnya.
PBNU pun meminta agar masyarakat dapat mengambil pelajaran berharga dari peristiwa ini.
• BREAKING NEWS: Orang Tak Dikenal Coba Tikam Menkopolhukam Wiranto di Banten
Seperti, hati-hati mencari referensi, dan jangan berguru pada media sosial dan kelompok eksklusif.
"Cari lembaga pendidikan yang sudah terbukti mengajarkan nilai-nilai agama yang moderat dan toleran."
"Di sana bannyak ulama dan kiai."
• Ini Wajah Pelaku Upaya Penikaman Terhadap Wiranto di Pandeglang Banten
"Jangan memilih guru hanya dengan melihat berapa banyak follower akun media sosialnya," saran Robikin.
Sebelumnya, Wiranto diserang orang tidak dikenal, Kamis (10/10/2019), seusai mengikuti acara di Universitas Mathlaul Anwar Pandeglang.
Dua pelaku penyerangan telah berhasil diamankan kepolisian. Mereka masing-masing berjenis kelamin laki-laki dan peremppuan.
• IBU Ini Menangis Histeris Bangunkan Anaknya yang Tewas Kesetrum: Jangan Ambil Arfan Ya Allah!
Pelaku laki-laki berinisial SA alias Abu Rara (31) warga Medan, Sumatera Utara.
Sedangkan pelaku perempuan berinisial FA (21) adalah warga Brebes.
Keduanya merupakan pasutri yang mengontrak di Kampung Sawah, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.
• Mendikbud: Karaoke Berjam-jam Bisa, Nyanyi Indonesia Raya Tiga Stanza Protes
Abu Rara diduga terpapar paham radikal ISIS.
Abu Rara mengajak istrinya, FA, untuk ikut menusuk Wiranto.
Pasutri ini baru sekitar dua bulan tinggal di Pandeglang.
Kini Abu Rara dan Istri menjalani pemeriksaan intensif di Mabes Polri, dan kasus ini ditangani langsung oleh Densus 88. (Danang Triatmojo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/zainut-tauhid-m.jpg)