Pasar Modal
Apakah Aksi Window Dressing Sudah Ada? Ini Kata Analis Pasar Modal
Analis menilai kondisi ini bisa saja ditopang dengan aksi window dressing di kuartal III dan memasuki akhir tahun.
WARTA KOTA, PALMERAH--- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kemarin sempat koreksi dalam bahkan sempat di bawah 6.000, saat ini sudah mulai merangkak naik ke atas 6.200.
Analis menilai kondisi ini bisa saja ditopang dengan aksi window dressing di kuartal III dan memasuki akhir tahun.
Analis Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya, mengatakan, fenomena window dressing pada umumnya terjadi.
“Adapun aksi ini sudah mulai terjadi beberapa saat kemarin ditandai IHSG yang sebelumnya mengalami tekanan sudah mulai rebound,” kata William.
• Jelang Akhir Tahun Bersiap Sambut Window Dressing, Simak Rekomendasi dari Analis
Menurut William, IHSG sebelumnya sudah mengalami tekanan hingga di bawah 6.000 tapi saat ini sudah mampu tumbuh di atas 6.200.
Selain itu, menurut William, masih terjaganya capital inflow secara year to date (ytd) sebesar Rp 43,6 triliun sedangkan net sell hanya Rp 18,79 triliun.
Artinya, investor luar masih nyaman berinvestasi di Indonesia karena laporan keuangan emiten kuartal III yang bagus dan IHSG masih terjaga di tengah kondisi saat ini.
• Ketindihan dan Melihat Hantu Saat Tidur? Berikut Penjelasan secara Ilmiah
Wlliam melihat dampak window dressing memang temporer dan bisa dilihat hingga akhir tahun.
Kenaikan masih bisa dirasakan di kuartal I 2020 karena ada laporan keuangan full year yang dirilis.
Namun, Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, melihat fenomena window dressing belum terjadi saat ini karena biasanya aksi tersebut dilakukan pada akhir tahun.
“Sebab kalau dilakukan sekarang terkesan sedikit terburu-buru," katanya.
Teguh mengatakan, window dressing bukan faktor fundamental yang secara alami menggerakkan harga saham di pasar.
• Jumlah Tenaga Kerja Turun 1.000 Orang, Kepala BKPM: Enggak Usah Dipertentangkan
Window dressing adalah kecenderungan fund manager di reksadana untuk membeli saham-saham yang turun dengan harapan saham tersebut akan rebound sehingga kinerja reksadananya akan lebih bagus dibandingkan IHSG.
Menurut Teguh, reksadana sebagai pengelola aset (asset management) diversifikasinya lebih besar dibanding investor ritel.
Teguh mengatakan, biasanya fund manager reksadana ini memilih 10 saham yang merupakan big caps mulai dari TLKM hingga UNTR.
Nah, setiap tahunnya di antara 10 saham kapitalisasi pasar yang berstatus blue chips ini pasti ada yang turun cukup dalam.
• Soal Perlindungan Konsumen Pinjaman Fintech Dipertanyakan YLKI
Teguh mencontohkan misalnya saja saham rokok GGRM dan HMSP atau saham perbankan yakni BBNI dan BMRI.
Apabila saham-saham itu turun pada Desember, fund manager biasanya akan beli dengan harapan bakal rebound.
Jadi menurut Teguh aksi ini tidak ada hubungannya dengan laporan keuangan emiten.
Saran Teguh bagi investor ritel adalah masuk sebelum Desember, minimal mulai beli saham-saham big caps yang koreksi ini di November.
Sebab kalau sudah masuk di bulan ke 12 Teguh menilai sudah terlambat karena fund manager sudah pada borong saham-saham itu.
Alhasil harganya jadi sangat mahal.
• Begini Kata Warren Buffett: Market Dirancang untuk Transfer Uang dari yang Tidak Sabar ke Sabar
Teguh menyarankan investor mencermati saham-saham bluechips seperti perbankan yang laporan keuangannya bagus-bagus.
Menurutnya yang paling menarik adalah BMRI yang kebetulan sahamnya belum naik jadi masih menarik.
Selain itu, saham GGRM dan HMSP juga telah mengeluarkan hasil laporan keuangan yang cemerlang.
Di tengah koreksi sahamnya saat ini, investor juga disarankan untuk memanfaatkan momentumnya dengan mulai beli sahamnya.
• Kado Terburuk dari Pemerintahan Baru: Iuran BPJS Kesehatan Naik Dua Kali Lipat
Berita ini sudah diunggah di Kontan dengan judul Memasuki akhir tahun, apakah sudah ada aksi window dressing? Begini penjelasan analis