Sabtu, 11 April 2026

Pendidikan

Kolaborasi Pendidikan Bertaraf Global Diwujudkan di Sekolah Pinggiran

GSM mengundang guru-guru dari sekolah model untuk mengikuti workshop pengayaan yang berlangsung dari 29 Oktober hingga 1 November 2019.

Istimewa
Kolaborasi GSM dengan dua sekolah Australia bertaraf global, yakni Clayton North Primary School dan Ringwood North Primary School. Muhammad Nur Rizal (pendiri GSM, pojok kiri) mendampingi guru-guru dari Australia dalam kunjungan kebudayaan ke SDN Pendulan. 

Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) membuka peluang bagi sekolah pinggiran di Sleman, Tangerang Selatan, Tebuireng, dan Jawa Tengah untuk berkolaborasi dengan sekolah berkualitas global dalam Workshop Pengayaan Guru.

GSM mengundang guru-guru dari sekolah model untuk mengikuti workshop pengayaan yang berlangsung dari 29 Oktober hingga 1 November 2019.

Kegiatan yang diprakarsai oleh guru-guru GSM di Sleman, dalam workshop kali ini, juga mengundang sekolah-sekolah model lain dari Jawa Tengah, Banten, Jawa Timur, dan beberapa wilayah lain di Indonesia.

Acara ini merupakan buah kolaborasi GSM dengan dua sekolah Australia bertaraf global, yakni Clayton North Primary School dan Ringwood North Primary School.

Muhammad Nur Rizal, pendiri GSM, mengatakan:

"Kolaborasi global sebenarnya merupakan sendi utama dalam pendidikan di era disrupsi ini."

"Sekolah dari Indonesia sudah tidak memiliki batas untuk menjalin hubungan dengan sekolah lain di belahan dunia mana pun," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (29/10/2019).

Timnas U23 akan Memanfaatkan Cocoro Meter Dalam Ajang Sea Games Filipina

Adapun dalam praktiknya, kata Rizal, hanya sekolah favorit yang mampu dan mendapat kesempatan lebih besar untuk mewujudkannya.

"GSM menerobos hal itu dan membuka peluang bagi sekolah nonfavorit atau pinggiran untuk bersinergi dengan sekolah bertaraf global."

"Dengan mengundang sekolah dari Australia berkualitas global di sekolah yang terpinggirkan, GSM berniat menghapus pengkastaan di dunia pendidikan."

"Yang layak berjejaring dengan dunia pendidikan global tidak hanya berasal dari sekolah mahal atau favorit."

"Sekolah rakyat sederhana, namun ekosistemnya menyenangkan dan memanusiakan, justru berpeluang jadi model sekolah masa depan."

"Mereka berhak berdiri sejajar dengan sekolah dari negara maju, jika kualitas manusianya diukur dari bekal ketrampilan yang dibutuhkan di abad 21, yakni kreativitas, kolaborasi, komunikasi dan pikiran kritis,," kata pria yang juga menjadi Dosen Fakultas Teknik UGM itu.

GSM sebagai gerakan akar rumput di bidang pendidikan telah dan akan terus mengubah paradigma masyarakat akan pendidikan serta orientasi kebijakan pendidikan pemerintah agar sesuai dengan tuntutan zaman.

Dalam prosesnya, kata Rizal, GSM berjuang untuk memangkas tajamnya ketimpangan antara sekolah favorit dan pinggiran.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved