Selasa, 21 April 2026

Pendapatan Operator Seluler Bisa Mencapai Rp 25 Triliun dari Jaringan 5G

Pendapatan tahunan operator seluler bisa mencapai angka 1,8 miliar dollar AS atau setara Rp 25,5 triliun.

thinkstockphotos
Ilustrasi. 

Studi Cisco juga menyebut bahwa implementasi jaringan 5G di kawasan ASEAN diprediksi akan mencapai 25 persen hingga 40 persen.

Sementara angka penggunaan jaringan 5G di Indonesia diperkirakan akan mencapai 27 persen pada tahun yang sama.

WARTA KOTA, PALMERAH---- Perusahaan penyedia infrastruktur jaringan asal Amerika Serikat, Cisco, mengatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk memonetisasi jaringan 5G, jika kelak telah tersedia.

Bahkan berdasarkan hasil riset internal, Cisco mengklaim pendapatan tahunan operator seluler bisa mencapai angka 1,8 miliar dollar AS atau setara Rp 25,5 triliun.

Namun, operator seluler tersebut harus menemukan use case yang tepat.

Menurut Dharmes Malhotra, Managing Director ASEAN Service Provider Sales, hal tersebut dipicu oleh peluang penggunaan 5G yang besar di Tanah Air.

Terungkap, Ekonomi Digital Indonesia Terbesar di ASEAN: Berapa Nilainya?

Ia mengatakan, populasi Indonesia adalah yang terbesar di ASEAN sehingga peluang inilah yang bisa dimanfaatkan oleh opeartor untuk mendulang keuntungan.

Dharmes mengatakan, untuk mendapatkan keuntungan dari teknologi 5G di Indonesia, operator akan menghadapi sejumlah tantangan seperti ketersediaan spektrum untuk menggelar 5G, penetapan harga, hingga "use case" penggunaan 5G.

"Indonesia memiliki populasi yang besar, industri yang besar, sehingga operator harus menemukan 'use case' yang tepat," kata Dharmes, Senin (7/10/2019).

Studi Cisco juga menyebut bahwa implementasi jaringan 5G di kawasan ASEAN diprediksi akan mencapai 25 persen hingga 40 persen.

Sementara angka penggunaan jaringan 5G di Indonesia diperkirakan akan mencapai 27 persen pada tahun yang sama.

Pisang Lebih Berguna Dibandingkan Uang Digital Bitcoin, Ini Penjelasan dari Miliader

Implementasinya bukan hanya digunakan pada sektor komunikasi semata, tetapi juga beragam sektor lain yang membutuhkan internet dengan kecepatan tinggi dan latensi yang rendah.

Seperti misalnya sektor kesehatan, transportasi, hingga permainan virtual.

"Contohnya alat-alat robotik yang ada di rumah sakit yang harus dikendalikan dengan latency rendah, atau kendaraan tanpa pengemudi," kata Dharmesh.

Sementara biaya yang harus dikeluarkan operator untuk berinvestasi, diperkirakan akan mencapai 10 miliar dollar AS atau sekitar Rp 141 triliun untuk pembangunan infrastruktur hingga tahun 2025 mendatang.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved