Minggu, 12 April 2026

Mengapa Saham Emiten BUMN Turun? Ini Penjelasan Analisis Saham

Dari 36 saham emiten badan usaha milik negara (BUMN) yang tercatat di BEI hanya 15 emiten yang menunjukkan kenaikan harga saham.

thinkstockphotos
Ilustrasi. 

WARTA KOTA, PALMERAH--- Sejak awal tahun hingga hingga Jumat (4/10/2019), dari 36 saham emiten badan usaha milik negara (BUMN) yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), hanya 15 emiten yang menunjukkan kenaikan harga saham.

Sisanya harga sahamnya menurun dengan kisaran 0,94 persen hingga 79,08 persen.

Jika dilihat lebih lanjut, ada 10 saham dengan penurunan paling dalam:

  • PT Indofarma Tbk (INAF)
  • PT Semen Baturaja Tbk (SMBR)
  • PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM)
  • PT Phapros Tbk (PEHA)
  • PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
  • PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC)
  • PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO)
  • PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB)
  • PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN)
  • PT Bank BRIsyariah Tbk (BRIS)

Penjelasan Arkeolog soal Harta Karun Kerajaan Sriwijaya Muncul di Lokasi Karhutla

Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee, mengatakan, 10 saham dengan penurunan terdalam dominan diisi oleh emiten dari sektor semen, farmasi, dan perbankan.

Menurut dia, penurunan saham sektor semen dipengaruhi bisnis properti yang tengah lesu beberapa tahun ke belakang.

"Nah kalau kami lihat semen itu banyak dikonsumsi oleh properti. Jadi, kalau properti belum bangkit, industri semen juga agak sulit bangkit," kata Hans kepada Kontan.co.id, Minggu (6/10/2019).

Terlebih lagi, semen yang diminta sektor properti lebih banyak dibanding yang pemerintah pakai.

Menurut dia, sinyal kebangkitan sektor properti belakangan ini belum cukup kuat untuk turut mendorong sektor semen.

Menginap di Hotel Bayar Rp 1,4 Miliar, Mau Mencoba? Lokasinya di Paling Utara Dunia

Di samping itu, sektor semen juga tengah mengalami kelebihan pasokan karena ada produsen semen dari luar negeri yang menjadi pesaing semen Tanah Air karena dijual dengan harga yang lebih murah.

Untuk sektor farmasi, penurunannya disebabkan oleh nilai tukar rupiah yang cenderung melemah.

Maklum saja, menurut Hans, bahan baku farmasi banyak berasal dari luar negeri karena produk dalam negeri tak mampu bersaing secara harga.

Untuk saham-saham perbankan yang menjadi tantangan adalah level loan to deposit ratio (LDR) yang tinggi dan non-performing loan (NPL) yang bergerak naik.

Sementara itu, jika ditarik lebih luas, Analis Jasa Utama Capital Sekuritas, Chris Apriliony, mengatakan, emiten-emiten sektor konstruksi dan perbankan menjadi emiten BUMN yang paling banyak ada dalam penurunan ini.

Menurut dia, kondisi ekonomi global yang cenderung memburuk, ditambah demonstrasi di Tanah Air akibat suhu politik yang masih cukup panas membuat saham emiten-emiten ini tertekan.

Penjelasan BNPB dan KLHK soal Kebakaran di Gunung, Berikut 13 Kejadian Kebakaran di Gunung

Terlebih lagi, menurut dia emiten-emiten konstruksi mencatatkan penurunan laba.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved