Sabtu, 11 April 2026

Kesehatan

Kenali Gejala Autisme Sejak Dini Agar Segera diIntervensi

Istilah autis tidak asing bagi masyarakat. Bahkan seringkali jadi bahan becandaan ketika melihat seseorang tak peduli terhadap lingkungan sekitar.

Penulis: |

Istilah autis tidak asing bagi masyarakat. Bahkan istilah autis seringkali jadi bahan becandaan ketika melihat seseorang yang tidak peduli terhadap lingkungan sekitar.

Namun, candaan itu dianggap tidaklah lucu. Sejak 5 tahun belakangan ini, Yayasan Masyarakat Peduli Autis Indonesia (Mpati) mengkampanyekan tidak menggunakan autis sebagai candaan. 

Pasalnya, bagi orangtua yang memiliki anak autisme, perjuangan agar anaknya bisa mandiri bisa ‘berdarah-darah’.

“Autis sebagai bahan candaan itu tidak asyik. Sebagai orangtua yang punya anak autisme, perjuangannya luar biasa. Kami ingin anak autisme menjadi sembuh dan mandiri. Kalau belum tahu tentang autisme jangan menghakimi,” kata Ketua Yayasan Mpati Gayatri Pamoedji saat konferensi pers  Special Kids Expo di Jakarta Convention Center (JCC), belum lama ini.

 Gubernur Papua Lukas Enembe Kebingungan, Ratusan Mahasiswa Asal Papua Pulang Kampung

 VIRAL Bocah Tewas Diduga Jadi Korban Perundungan Temannya, Sang Ibu: Kebenaran Akan Terungkap

 KISAH Soeharto dan Keluarga Cendana saat G30S/PKI Terjadi, Bu Tien Gelisah dan Mengungsi

 TPA Bantargebang Disorot Leonardo DiCaprio, Ini Kata Walikota Bekasi

Saking beratnya perjuangan tersebut, Gayatri memberikan sebuah survei di Australia  yang menunjukkan keluarga yang memiliki anak autisme 80 persennya berujung pada perceraian.

Hanya 20 persen yang tetap memiliki keluarga utuh.

Autisme pun memiliki spectrum yang luas dari yang ringan hingga berat.

Untuk menjadikan anak autisme yang mandiri, diperlukan beberapa terapi, terutama 3, yakni terapi perilaku agar anak menjadi patuh.

Pasalnya anak autis untuk meminta duduk saja seringkali sulit.

 Kronologi dan Pengakuan Pemotor Tabrak Anak di Trotoar yang Viral di Medsos, Simak Penjelasan Polisi

Terapi wicara , juga menjadi penting  agar anak mau berkomunikasi dan terapi okupasi, yakni olahraga yang bisa mengatur koordinasi antara motorik kasar dan motorik halus.

Terapi itu dilakukan rutin dan dilakukan dalam waktu yang tidak bisa ditentukan kapan bisanya.

Gayatri memberikan contoh untuk terapi wicara saja diperlukan durasi 30-40 jam per minggu.

Tentu saja terapi tidak bisa dibebankan kepada terapis saja.

Peran orangtua sangat penting karena di rumah sehari-hari anak berada di rumah dibawah pengawasan orangtua.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved