Minggu, 19 April 2026

Waspada, Penipuan Iklan di Indonesia Masih Besar

Pemilik brand juga harus waspada dengan maraknya penipuan iklan yang berakibat pada hilangnya pendapatan brand tersebut.

thinkstockphotos
Ilustrasi. Pemilik brand juga harus waspada dengan maraknya penipuan iklan yang berakibat pada hilangnya pendapatan brand tersebut. 

Shanti Tolani, Country Manager Mobile Marketing Association Indonesia, mengatakan, berdasarkan survei kami pada Q1 2019, di Indonesia 33 persen pemasar masih rendah pengertiannya terhadap tingkat penipuan periklanan untuk pembelanjaan iklan mereka.

“Pengetahuan tentang sistem monitoring dari cara brand mereka ditayangkan di media dan bagaimana penayangan tersebut diukur masih rendah,” kata Shanti, Kamis (08/08/2019).

Dengan demikian, kata Shanti, ada kebutuhan untuk meningkatkan transparansi dari mitra media mereka.

Hal ini menjadi penting bagi masing-masing pemangku kepentingan pada ekosistem ini untuk mengedukasi dan terus berusaha mengatasi isu tersebut.

“Di situlah MMA memberikan kontribusi pada industri periklanan. Terkait penipuan iklan dan brand safety, Indonesia baru saja memulai perjalanannya,” kata Shanti.

Ingin Kompresi Database? Coba Pakai Layanan Perusahaan Rintisan Ini

Hemant Bakshi, CEO/Presiden Direktur PT Unilever Indonesia, mengatakan, kredibilitas iklan online masih menjadi masalah global dan industri saat ini.

Menurut Hemant, kurangnya transparansi adalah masalah bagi brand dan konsumen, karena hal itu merusak kepercayaan dan mendistorsi dampak yang terjadi.

“Penelitian menunjukkan bahwa click fraud menghasilkan laba lebih dari USD20 juta per bulan untuk mereka yang terlibat, dan para bot ini dapat mencapai hingga 90 persen dari jumlah click pada kampanye periklanan,” kata Hemant.

Herman mengatakan, perusahaan besar harus lebih bisa mengontrol dan meningkatkan visibilitas tempat mereka beriklan

Termasuk melakukan upaya nyata untuk mengatasi masalah ini agar bisa mendapatkan lebih banyak kepercayaan konsumen.

Melalui transparansi yang lebih tinggi dari para media, penggunaan waktu dan uang yang lebih efektif, dan pengalaman online yang lebih baik untuk semua orang.

“Pada akhirnya, semua pengiklan harus memiliki tujuan untuk menciptakan pengalaman yang lebih positif bagi para konsumen online,” kata Hemant.

Perang Mata Uang, Mata Uang Mana yang Diuntungkan? Penjelasan Analisis Valas

Berita ini sudah diunggah di Info Komputer dengan judul Merugikan Brand, Penipuan Iklan yang Terjadi di Indonesia Masih Besar

Sumber: Info Komputer
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved