Gempa Bumi

Gempa Bali Bikin Siswa Panik Ada yang Ketiban Genteng Hingga Pria Ini Temukan Rumahnya Sudah Roboh

Saat gempa terjadi, siswa kelas 1 SDN 1 Ungasan tengah mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).

Gempa Bali Bikin Siswa Panik Ada yang Ketiban Genteng Hingga Pria Ini Temukan Rumahnya Sudah Roboh
Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Genteng berserakan di halaman SDN 1 Ungasan akibat gempa yang terjadi pagi tadi, Selasa (16/7/2019) 

Manager On Duty Inaya Putri Hotel, Diah Anggraeni, juga menyampaikan tamu-tamu sempat panik berhamburan keluar hotel namun tertanggulangi dengan cepat.

“Namun sejauh ini tidak ada tamu yang luka ringan tertimpa genteng atau lainnya. Bangunan hotel pun hanya retak sedikit di beberapa sisi,” imbuhnya.

Tidak ada wisatawan yang menjadi korban atau mengalami luka ringan akibat gempa kemarin. Pun tidak ada yang langsung memutuskan cek out mendadak pascagempabumi.

Suasana kepanikan juga terjadi di RSUP Sanglah, Denpasar. Guncangan gempa terasa cukup keras di wilayah Denpasar.

Puluhan pegawai, pasien, dan penjenguk berhamburan menyelamatkan diri.

Seorang pasien, Nengah Nurini (49) menceritakan, saat terjadi gempa ia tengah berada di apotek. Dalam kondisi panik ia langsung berlari ke taman.

"Saya pas ambil obat di dalam apotek. Semuanya keluar berhamburan. Pegawai juga keluar masih bawa map-map gitu. Tapi yang ada yang belum sempat keluar karena gempanya gak lama," ucapnya.

Sementara Kadek Kerni, orangtua dari pasien yang berada di ruang Angsoka lantai 3 ruang 301 menuturkan, ia dan anaknya berlari keluar saat terjadi gempa.

"Saya lari keluar dengan anak saya yang dirawat. Dua orang pasien diam saja di atas kasur karena mungkin tidak kuat jalan. Keras sekali gempanya. Saya lari sampai pintu," tuturnya.

Humas RSUP Sanglah, Dewa Ketut Kresna, saat dikonfirmasi menyatakan pasien yang dirawat tidak ada sampai keluar gedung. “Hanya di dalam saja," tandasnya.

Bangunan Rusak

Di Kota Denpasar, gempa menyebabkan padmasana Pura Agung Lokanatha di Taman Kota Lumintang, mengalami kerusakan.

Penjaga pura, Jro Mangku Ketut Tarsana, mengatakan kerusakan terjadi pada bagian ujung atas yang jatuh ke bagian belakang.

"Dia jatuhnya ke belakang kemudian di bawahnya terdapat patung garuda itu kena. Hanya ulun (ujung) itu yang dapet tadi," tuturnya.

Saat kejadian dirinya mengaku sedang ngayah bersama pemangku lain. Gempa terjadi bertepatan persembahyangan Purnama bersama beberapa dinas di Pemkot Denpasar.

"Secara kebetulan persembahyangan telah selesai. Kita bersyukur tidak ada banyak orang dan korban," tutur Mangku Tarsana, yang mengatakan getaran gempa di sekitaran Pura Lokanatha memang lumayan keras.

Sementara di Kabupaten Gianyar, gempa menyebabkan gedung DPRD Gianyar mengalami sejumlah kerusakan.

Murda atau ornamen genteng terbuat dari beton, dengan diameter sekitar 60 centimeter (cm), jatuh menimpa atap toilet dan ruang Tata Usaha (TU) Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Gianyar.

Beruntung, ketika ornamen merusak bangunan Rutan Gianyar, para staf telah menyelamatkan diri ke lapangan rutan, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

Pantauan Tribun Bali, dua orang tukang tengah memperbaiki atap toilet dan ruang TU Rutan Gianyar, Selasa (16/7) pukul 12.35 Wita.

Atap tersebut tampak berlubang dengan diameter sekitar 2 meter x 70 cm.

Kepala Rutan Kelas IIB Gianyar, I Nyoman Mudana, bersyukur ketika gempa terjadi, para staf rutan telah menyelamatkan diri ke lapangan.

“Tadi habis apel pagi, semua pegawai dan tahanan sembahyang bersama. Usai sembahyang masuk ke ruangan, tapi tiba-tiba ada gempa besar, lalu semua lari ke lapangan rutan. Setelah gempa berhenti, dan kembali ke ruangan, kami sudah mendapati bangunan sudah rusak,” ujarnya saat ditemui di dalam rutan, kemarin.

Mudana mengatakan, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Hanya saja, saat gempa besar terjadi, Kasubag TU Rutan Gianyar, jatuh ketika berlari menyelamatkan diri.

Guncangan cukup besar juga dirasakan warga Jembrana, yang menjadi pusat gempa. Satu di antara korban adalah seorang siswa di Jembrana yang sampai pingsan akibat goncangan gempa.

Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Ketut Eko Susila AP, menyatakan tidak ada korban jiwa.

Hanya korban luka akibat tertimpa runtuhan yang menimpa seorang siswa SMPN 5 Mendoyo, I Ketut Semadi Yoga Yasa, serta seorang siswa Ni Komang Ariani tak sadarkan diri.

Selain di SMPN 5 Mendoyo, kerusakan bangunan juga terjadi di SDN 1 Yeh Sumbul, kemudian rumah milik I Gede Pasek Wiasa dan Pasek Wiasa di Banjar Kemoning, Desa Manistutu, Kecamatan Melaya.

Kerusakan rumah warga akibat gempa juga terjadi di Kabupaten Buleleng.

Tercatat dua rumah semi permanen milik Wayan Ritawan (40) di Banjar Dinas Kelod, Desa/Kecamatan Busungbiu, dan rumah Gede Sutapa (57) di Banjar Dinas Dauh Pura, Desa Depeha, Kubutambahan, mengalami kerusakan dan menyebabkan kerugian materiil sekitar Rp 20-25 juta.

Dituturkan Ritawan, saat gempa terjadi, rumah dalam keadaan kosong. Ia pergi bekerja di salah satu toko bangunan wilayah Desa Busungbiu.

Sedangkan istrinya mengantarkan sang anak pergi ke sekolah.

Saat tengah sibuk bekerja, Ritawan tiba-tiba merasakan guncangan gempa yang cukup keras. Hingga perasaan cemas pun muncul. Ia bergegas meminta izin kepada bosnya untuk pulang, menengok kondisi rumahnya.

Perasaan cemas Ritawan rupanya terbukti. Setibanya di rumah, pria kelahiran 6 Juni 1978 ini mendapati sebagian atap dan tembok rumahnya telah roboh.

"Atap yang roboh itu tepat dibagian kamar tidur. Tembok-tembok juga sebagian roboh. Ini rumah sudah tua, umurnya sekitar 20 tahun. Saat dibangun memang tidak ada betonnya, karena tidak punya biaya, asal ada tempat berteduh saja," ungkap Ritawan lirih.

Akibat kejadian ini, Ritawan terpaksa mengungsi sementara waktu ke rumah kerabatnya di wilayah Desa Busungbiu. Ia berharap, pemerintah dapat memberikan bantuan, untuk memperbaiki rumahnya yang rusak.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali I Made Rentin mengatakan, berdasarkan hasil koordinasi dengan BPBD Kabupaten/Kota se-Bali ada 45 laporan kerusakan bangunan.

Dari 45 laporan kerusakan bangunan itu, jumlah paling banyak yakni sebanyak 36 kerusakan terjadi di Kabupaten Badung. Kabupaten lain yang mengalami dampak kerusakan akibat gempa ini yakni Jembrana (4 bangunan rusak), Buleleng (2), Gianyar (2), dan Denpasar (1).

Dampak gempa ini tidak mengakibatkan operasional bandara terganggu, aktivitas masyarakat juga berjalan normal.

“Hasil koordinasi dengan humas bandara, operasional Bandara Ngurah Rai tetap berjalan normal," kata Rentin. (zae/azm/ang/rtu/sui)

Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved