Sabtu, 25 April 2026

Aksi Terorisme

TERBARU Densus 88 Bekuk Pemimpin Jamaah Islamiah dan 4 Kaki Tangannya

Densus 88 Antiteror membekuk amir atau pemimpin Jamaah Islamiah (JI) yakni Para Wijayanto (PW) alias Aji Pangestu alias Abu Askari alias Ahmad Arif,

Penulis: Budi Sam Law Malau |
ISTIMEWA
Sejumlah anggota Densus 88 Anti Teror melakukan penggerebekan terhadap dua terduga teroris di Kampung Pangkalan RT 11/04, Desa Kedung Pengawas, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Sabtu (4/5/2019). 

Apalagi pada masa lalu, kelompok ini memiliki dua bomber berbahaya yakni Noordin M Top dan Dr Azhari.

"Jadi kalau organisasi ini dibiarkan tumbuh besar dan memiliki kekuatan massa dan ekonomi yang makin memadai bisa dibayangkan aksi mereka. Sebab akan tinggal menunggu waktu saja untuk aksi teror mereka dalam mewujudkan cita-cita menjadikan Indonesia Khilafah. Karenanya Densus 88 melakukan preventif strike dengan mengamankan mereka," papar Dedi.

Ia menjelaskan PW memimpin JI sejak 2007 sampai saat ini. PW memimpin JI setelah amir lama JI, yakni Zarkasih alias Mbah tertangkap.

Untuk sayap militernya kata Dedi dipercayakan ke Abu Dujana.

"PW ini dulunya tahun 2000 an di JI berada dalam struktur organisasi di bidang intelijen," kata Dedi.

Namun setelah JI dinyatakan bubar, PW justru dibaiat sebagai amir JI yang ada di Indonesia.

"JI ini berbeda dengan JAD dan JAT. JI ini jauh lebih tua dan berafiliasi ke Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden," kata Dedi.

Sedangkan kelompok JAD dan JAT katanya berafiliasi ke ISIS yang pimpinannya Abu Bakar Al Baghdadi.

PW kata Dedi adalah lulusan S1 Teknik Sipil di salah satu universitas ternama di Jawa Tengah.

"Artinya ia punya intelektual dan kompetensi," kata Dedi.

PW tambah Dedi merupakan alumni dari akademi pelatihan militer di Moro angkatan ketiga tahun 2000. Akademi ini adalah milik JI.

"Dari situlah yang bersangkutan aktif di dalam struktur organisasi JI. Dia juga aktif di dalam berbagai macam kejadian terorisme yang ada di Indonesia. Mulai dari kasus Bom Bali 2002 dan bom natal tahun 2000 dan kemudian bom di Kedutaan Besar Australia. Dia juga aktif ketika terjadi kerusuhan di Poso mulai dari 2005 sampai 2007," papar Dedi.

Menurut Dedi, sepanjang 2013 hingga 2018, kelompok PW sudah mengirim orang-orang yang berhasil direkrut untuk mengikuti program latihan dan praktik militer di Suriah.

"Sudah ada enam gelombang yang diberangkatkan dan sebagian besar sudah kembali ke Indonesia pada bulan Mei kemarin dan beberapa juga sudah berhasil ditangkap, di Jawa Tengah dan di Jawa Timur," kata Dedi.

"Selain ahli di bidang paramiliter dan pembuatan bom, PW juga mampu mengoperasionalkan roket dan memiliki kemampuan sniper," tambah Dedi.

Sumber: WartaKota
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved