Novel Baswedan Diteror

Dituduh Radikal dan Taliban, Novel Baswedan Mengaku Tidak Mau Ambil Pusing

Novel Baswedan tidak masalah disebut radikal asalkan radikal yang dimaksud ialah kegencarannya dalam memberantas korupsi.

Dituduh Radikal dan Taliban, Novel Baswedan Mengaku Tidak Mau Ambil Pusing
Warta Kota/Henry Lopulalan
Penyidik KPK Novel Baswedan dengan pengawalan menuju ruang sidang untuk menjadi saksi dalam sidang kasus perintangan penyidikan perkara korupsi dengan terdakwa Lucas di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (10/1/2019). Sidang dengan terdakwa pengacara dari Eddy Sindoro itu beragendakan mendengarkan keterangan lima orang saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum salah satunya Novel Baswedan. 

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan angkat bicara soal tuduhan radikal dan taliban yang disematkan padanya.

Novel mengaku tidak mengambil pusing dengan tuduhan-tuduhan tersebut.

Sebelumnya kolumnis Denny Siregar mengungkapkan adanya indikasi radikalisasi di lembaga antirasuah tersebut.

Dalam tulisannya, Denny mengapresiasi Panitia Seleksi Pimpinan KPK yang menggandeng Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk mencegah orang yang terpapar radikalisme menjadi pimpinan di KPK.

Denny pun membahas soal isu faksi "Polisi Taliban" dan "Polisi India" di KPK.

Polisi Periksa Novel Baswedan di KPK Soal Ancaman dan Teror Terkait Penyiraman Air Keras

Dua Tahun Kasus Penyerangan Novel Baswedan Tak Terungkap, Jokowi: Tanya Tim Gabungan

Dua Tahun Kasus Penyerangan Novel Baswedan Tak Terungkap, Jokowi: Tanya Tim Gabungan

Hal ini pertama kali diungkap Direktur Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane beberapa bulan lalu.

“Saya kurang tahu yang dimaksud dengan polisi India. Mungkin mirip dengan polisi India yang baru datang ketika kejadian sudah selesai. Sedangkan polisi Taliban dimaksud adalah kelompok agamis dan ideologis," kata Denny dalam tulisannya yang dikutip Wartakotalive.com.

Denny menduga penyidik senior Novel Baswedan dan mantan komisioner KPK Bambang Widjojanto sebagai bagian dari faksi polisi Taliban.

Menurut dia, kelompok Taliban memiliki pengaruh kuat di KPK. Menurut Denny, kelompok ini bahkan bisa menentukan mana kasus yang harus diangkat dan kasus yang diarsipkan. 

Terkait hal tersebut, Novel pun angkat bicara dengan tuduhan radikal dan Taliban.

Halaman
123
Penulis: Desy Selviany
Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved