Novel Baswedan Diteror
Dituduh Radikal dan Taliban, Novel Baswedan Mengaku Tidak Mau Ambil Pusing
Novel Baswedan tidak masalah disebut radikal asalkan radikal yang dimaksud ialah kegencarannya dalam memberantas korupsi.
Penulis: Desy Selviany | Editor: Dian Anditya Mutiara
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan angkat bicara soal tuduhan radikal dan taliban yang disematkan padanya.
Novel mengaku tidak mengambil pusing dengan tuduhan-tuduhan tersebut.
Sebelumnya kolumnis Denny Siregar mengungkapkan adanya indikasi radikalisasi di lembaga antirasuah tersebut.
Dalam tulisannya, Denny mengapresiasi Panitia Seleksi Pimpinan KPK yang menggandeng Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk mencegah orang yang terpapar radikalisme menjadi pimpinan di KPK.
Denny pun membahas soal isu faksi "Polisi Taliban" dan "Polisi India" di KPK.
• Polisi Periksa Novel Baswedan di KPK Soal Ancaman dan Teror Terkait Penyiraman Air Keras
• Dua Tahun Kasus Penyerangan Novel Baswedan Tak Terungkap, Jokowi: Tanya Tim Gabungan
• Dua Tahun Kasus Penyerangan Novel Baswedan Tak Terungkap, Jokowi: Tanya Tim Gabungan
Hal ini pertama kali diungkap Direktur Indonesia Police Watch (IPW) Neta S. Pane beberapa bulan lalu.
“Saya kurang tahu yang dimaksud dengan polisi India. Mungkin mirip dengan polisi India yang baru datang ketika kejadian sudah selesai. Sedangkan polisi Taliban dimaksud adalah kelompok agamis dan ideologis," kata Denny dalam tulisannya yang dikutip Wartakotalive.com.
Denny menduga penyidik senior Novel Baswedan dan mantan komisioner KPK Bambang Widjojanto sebagai bagian dari faksi polisi Taliban.
Menurut dia, kelompok Taliban memiliki pengaruh kuat di KPK. Menurut Denny, kelompok ini bahkan bisa menentukan mana kasus yang harus diangkat dan kasus yang diarsipkan.
Terkait hal tersebut, Novel pun angkat bicara dengan tuduhan radikal dan Taliban.
Novel mempertanyakan maksud radikal yang dimaksud Denny apakah karena penampilannya ataukah karena ketidak kompromiannya terhadap korupsi.
“Justru ketika seseorang yang kenakan jenggot seperti saya, kadangkala menggunakan celana sedikit pendek sesuai dengan sunah Rasull SAW terus dipermasalahkan maka menurut saya kurang berpengetahuan,” jelas Novel seperti termuat dalam video yang diunggah oleh mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Dahnil Anzar pada Selasa (25/6/2019).
Namun jelas Novel, jika yang dimaksud radikal ialah karena dirinya yang gencar memburu koruptor maka ia ikhlas dituduh radikal.
“Apakah menangkap koruptor dan kemudian tidak kompromi itu disebut radikal disebut Taliban? kalau itu yang dimaksudkan gak masalah buat saya,” kata Novel.
Bahkan kata Novel jika yang dimaksud memang seperti itu maka ia ikhlas disebut radikal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20190111novel-jadi-saksi9.jpg)