Pilpres 2019

Terungkap Alasan Abdullah Hehamahua yang Mantan Penasehat KPK Jadi Korlap Aksi di MK

Abdullah Hehamahua mengungkapkan alasanya menjadi korlap aksi damai yang digelar di Mahkamah Konstitusi (MK).

Terungkap Alasan Abdullah Hehamahua yang Mantan Penasehat KPK Jadi Korlap Aksi di MK
Warta Kota/Joko Supriyanto
Abdullah Hehamahua terjun langsung mengawal jalannya persidangan MK. 

Abdullah Hehamahua (70) mengungkapkan alasan bersedia menjadi korlap aksi damai yang digelar di Mahkamah Konstitusi (MK) mengenai sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU).

Mantan penasehat KPK itu mengaku pemilu 2019 ini menuai banyak kecurangan dan manipulasi yang menguntungkan golongan atau kelompok tertentu.

Untuk itu, perlu pengawalan agar MK tidak salah ambil keputusan.

"Saya 12 tahun lebih sebagai penyelenggara negara, empat tahun memeriksa penyelenggara negara dan delapan tahun sebagai penasihat KPK. Nah ternyata pelaksanaan Pemilu sampai perhitungan itu cukup banyak manipulasi dan kecurangan," kata Abdullah Hehamahua di Patung Kuda Monas, Selasa (18/6/2019).

Bongkar Kejanggalan Kekayaan Jokowi, Lihat Jomplangnya Kekayaan Bambang Widjojanto Vs Hotman Paris

Meski kecurangan itu terlihat masif membuat para mahasiswa dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang selama ini dikenal aktif tiba-tiba diam, seolah mereka menutup mata atas kecurangan yang terjadi. Untuk itu dirinya bergerak turun ke jalan untuk melakukan aksi.

"Semua universitas negeri sudah dibuat diam, LMS yang dikenal aktif juga tidak ada. Mereka tidak bergerak," ujarnya.

Anies Baswedan Ungkap Penyebab Tingkat Kemacetan Ibu Kota Turun 8 Persen

Abdullah Hehamahua mengaku pernah dianugerahi Satyalancana Wira Karya pada tahun 1993 karena dianggap berjasa telah membantu negara memupuk integritas nasional khususnya di KPK. Dengan para tersebut hatinya tergugah agar Indonesia tetap berjaya.

Penghargaan wirakarya sendiri adalah sebuah tanda penghargaan yang dikeluarkan dan diberikan kepada warga negara Indonesia yang telah sangat berjasa dan berbakti kepada bangsa dan negara.

"Setiap saya melihat piagam itu, saya lalu bertanya kemana integritas saya selama ini bila membiarkan keadaan seperti ini. Kalau seperti ini terus maka Indonesia dalam keadaan bahaya, bisa bubar, bisa ada perpecahan," ujarnya.

Dengan bantuan dukungan dari Front Pembela Islam (FPI), GNPF, dan alumni Persaudaraan Alumni (PA) 212, Abdullah Hehamahua pun memutuskan untuk terjun langsung dan memimpin aksi massa kawal sidang sengketa Pilpres di MK.

"Oleh karenanya, saya memutuskan untuk turun langsung memimpin gerakan dan alhamdulillah teman-teman dari FPI, GNPF, alumni 212 meminta saya memimpin gerakan itu. Itulah pertimbangan saya bersedia dalam usia 70 tahun, sweet seventy," ucapnya.

Anies Baswedan Ungkap Ajang Halal Bihalal Bisa Melenturkan yang Kaku dan Melunakkan yang Keras

Penulis: Joko Supriyanto
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved