Demam Berdarah Dengue
Alifa Sofiani Terserang Penyakit Demam Berdarah Dengue Stadium Tinggi
Penderita demam berdarah Dengue (DBD), Alifa Sofiani divonis sudah dalam kategori stadium tinggi sehingga jiwanya sulit diselamatkan.
Penulis: Junianto Hamonangan |
“Tapi pas minum obat warung, udah langsung sembuh,” katanya saat ditemui Warta Kota di rumahnya di Jalan Pulo Nangka RT 008/RW 02, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (9/2/2019).
• Ini Syarat Pasien DBD Dapat Perawatan Gratis di RSUD Meskipun Tak Punya BPJS
Namun kondisi berbeda terjadi keesokan harinya, Rabu (6/2/2019) hingga Kamis (7/2/2019). Saat itu, tubuh Alifa justru dingin.
Lantas, Sarjono membawa Alifa ke klinik 24 jam untuk diperiksa.
“Pas malamnya, jam 2 pagi, dingin banget badannya. Nggak sampai menggigil sih tapi dingin banget lah,” ucap Sarjono.
Setelah itu, Sarjono bersama sang istri, Marsini membawa Alifa RS Cinta Kasih Tzu Chi. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Alifa meninggal dunia pada sore hari.
“Masuk rumah sakit itu Jumat (8/2) subuh, sempat mendapat penanganan dulu, pemeriksaan lab juga tapi sorenya nggak tertolong lagi,” ucapnya.
Ketika itu dokter yang menangani menyatakan bahwa Alifa terserang penyakit DBD.
Penyakit DBD itu semakin dipertegas melalui hasil pemeriksaan bahwa jumlah trombosit Alifa jauh dibawah normal.
“Hasil lab terakhir, kan tiga kali pemeriksaan, jumlah trombositnya cuma 5.000,” ucap Sarjono sembari memperlihatkan kertas hasil laboratorium.
Alifa selanjutnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Wakaf Komaan Rawa Buaya di Jalan Cempaka Raya Ujung, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat.
• DBD Mulai Makan Korban, Balita di Rawa Buaya Meninggal Meski Sempat Sembuh Setelah Minum Obat Warung
Alifa Sofiani merupakan penderita DBD kedua di sekitar tempat tinggalnya di Rawa Buaya.
“Anak saya yang kedua di RT 008, jadi anak saya nyusul setelah yang pertama,” ucap ibunda Alifa, Marsini.
Namun, penderita pertama baru menunjukkan gejala. Sedangkan Alifa sudah menderita DBD dan jiwanya tidak dapat diselamatkan lagi saat dirawat di RS Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat.
“Jadi nggak lama dia (penderita DBD pertama) pulang, giliran anak saya. Dia juga lebih gede, udah sekolah, kalau anak saya kan masih kecil,” ujarnya.
Marsini mengatakan, kader juru pemantau jentik (jumantik) di Kelurahan Rawa Buaya sudah rutin melakukan tugasnya setiap pekan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/korban-dbd-meninggal.jpg)