Aksi OPM

Gubernur dan DPRD Papua Minta Pasukan TNI-Polri Ditarik dari Nduga, Pihak Kodam Cenderawasih Bingung

Untuk itu, Aidi menegaskan pihaknya tidak akan menarik pasukan dari Kabupatan Nduga.

Gubernur dan DPRD Papua Minta Pasukan TNI-Polri Ditarik dari Nduga, Pihak Kodam Cenderawasih Bingung
Istimewa
SEMBILAN jenazah pekerja jembatan di Nduga Papua yang berhasil diidentifikasi tim DVI Polri akan diserahkan PT Istaka Karya ke keluarga, Jumat (7/12/2018). 

"Tadi pagi saya ketemu dengan Panglima, bahwa dua jam lalu turun sudah menurunkan pasukan, dan beliau menunggu laporan yang lebih pasti tentang korbannya," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, Polda Papua membenarkan adanya informasi 31 pekerja pembangunan jalan di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, dibunuh kelompok KKB.

Mahasiswa Papua Angkat Bicara Respon KKB

Sebanyak 31 orang yang bekerja perusahaan milik BUMN PT Istaka Karya yang saat ini bekerja untuk membuka isolasi di wilayah pegunungan tengah Papua itu, sampai saat ini jenazahnya belum bisa diambil.

Sebab, lokasinya jauh dari ibu kota Nduga dan Kabupaten Jayawijaya, yang terdekat dari wilayah pembangunan jembatan. 

Pangdam XVII/Cendrawasih Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring mengungkapkan, bersama Kapolda Papua, pihaknya akan langsung ke lokasi pembunuhan 31 pekerja.

“Besok saya dengan Kapolda Papua akan menuju pegunungan tengah, untuk mengecek kebenaran informasinya. Nanti, kalau informasinya sudah didapat akan kami sampaikan publik,” paparnya

TNI Polri Serang KKB Pakai Granat

MENKO Polhukam Wiranto membantah TNI menggunakan bom saat mengevakuasi dan mencari korban serangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Nduga, Papua.

"Saudara sekalian, saat ini emang ada isu bahwa TNI pakai bom (untuk melakukan
evakuasi dan pencarian), (hal tersebut) enggak ada," ujar Wiranto di Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Selasa (11/12/2018).

Namun, Wiranto menyebut dalam proses evakuasi dan pencarian korban, pihak TNI menggunakan pelontar granat.

"Tapi kalau kita gunakan pelontar granat iya, dan suaranya kalau buat orang awam sama dengan bom suaranya, tapi barangnya beda," jelas Wiranto.

"Kalau bom dijatuhkan dari udara, ini dilontarkan dari senapan, jadi jangan sampai ada berita simpang siur," sambungnya.

Dikutip dari kompas.com, melalui media sosial, terdapat sejumlah akun yang menyebarkan informasi adanya pengeboman yang dilakukan pasukan TNI di wilayah Papua sejak 4 Desember 2018.
Bahkan, serangan ini dikabarkan menewaskan sejumlah warga sipil.

Informasi disebarkan melalui berbagai narasi berbeda, salah satunya sebagai berikut:

"Breaking News: Distrik Mbua Kabupaten Nduga siang ini terjadi penyerangan dengan bom mengunakan 5 Helikopter TNI kepada Masyarakat setempat. Jumlah korban sementara 1 Orang Papua. Mohon Advokasi," demikian kicauan di Twitter.

KKB Lebih dari Teroris

KETUA Umum Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) Letjen (Purn) Kiki Syahnakri menilai, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua sudah melebihi tindakan teroris karena dilakukan secara terorganisasi dan bertujuan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Ini lebih tinggi dari terorisme sehingga pantas diselesaikan secara militer," kata Kiki dalam konferensi pers di Gedung PPAD, Jakarta, Jumat (7/12/2018).

Dia menilai teroris tidak terorganisir secara baik dan hanya dipersenjatai satu atau dua orang namun apa yang dilakukan KKB di Papua dilakukan secara sistematis dan anggotanya dipersenjatai.

Karena itu, menurut Kiki penanganan KKB di Papua seharusnya diserahkan kepada TNI sebagai pengendali utama dibantu Polri dalam hal penegakan hukumnya.

"Operasi TNI harus dilakukan secara terukur berdasarkan hukum humaniter dan azas operansi lawan gerilya dengan mengutamakan upaya perlindungan terhadap semua masyarakat sipil di Papua terutama di daerah-daerah yang dinilai rawan ancaman bersenjata," katanya.

Dia menilai terkait Gerombolan Separatis Bersenjata Organisasi Papua Merdeka (GSB-OPM), sepatutnya tidak lagi disebut sebagai KKB karena tujuan mereka sudah jelas yaitu memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dia menilai mereka sudah terorganisasi secara militer dan sering melakukan aksi-aksi kekerasan bersenjata sehingga kehadirannya sudah dapat dikategorikan sebagai pemberontakan bersenjata terhadap NKRI.

"Karena itu mereka termasuk kelompok kombatan yang patut ditumpas secara militer," katanya.

Kiki juga menyoroti kehadiran OPM saat ini sudah menjadi organisasi pembebasan untuk Papua Barat atau ULMWP yang semula dilatari masalah keadilan sosial yang belum baik lalu bergulir tidak terkendalikan oleh pemerintah.

Menurut dia saat ini keberadaan organsasi tersebut sudah sampai pada kompleksitas masalah yang rumit dan menjadi isu internasional terutama dengan kehadiran dan aksi-aksinya serta campur tangan pihak asing.

Sebelumnya, sebanyak 31 pekerja proyek jalan Trans Papua yang sedang bekerja membangun jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, diduga dibunuh kelompok bersenjata, Minggu malam (2/12).

Polda Papua menduga sebanyak 24 orang dibunuh di hari pertama sementara delapan orang yang berusaha menyelamatkan diri di rumah anggota DPRD, tujuh di antaranya dijemput dan dibunuh KKB dan satu orang belum ditemukan.

Kisah Tragis Korban KKB: 3 Hari Survival di Hutan Belantara

MASA-masa menegangkan itu sudah lewat.

Meski demikian, masih kental dalam ingatan Simon Tandi upayanya menyelamatkan diri dari kejaran kelompok kriminal bersenjata ( KKB) di Bukit Kabo, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua.

Simon, warga Jahab, Tenggarong itu bekerja di PT Istaka Karya di Nduga, Papua untuk memenuhi kebutuhan biaya kuliah anaknya.

Saat dihubungi melalui ponsel pada Sabtu (8/12/2018), Simon bercerita, karena mukjizat Tuhan hingga hari ini dia masih hidup.

“Saya sungguh menyaksikan mukjizat Tuhan, saya masih hidup saat ini. Ketika mereka membantai teman-teman saya, saya hampir menyusul mereka. Beruntung, melalui warga setempat, Tuhan menyelamatkan saya,” kata Simon.

Kejadian itu dimulai pada Sabtu (1/12/2018), ketika Simon bersama satu rekan lainnya, Joni Pariangan, pergi ibadah Natal di Gereja Protestan Nduga.

Gereja ini adalah tempat rutin yang selalu Simon datangi, lokasinya tak jauh dari camp tempat mereka tinggal.

“Saya sering ke sana untuk berdoa dan ibadah. Apalagi ada ibadah Natal, maka saya tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk pergi ke Gereja,” kata Simon.

Tidak disangka, kegiatan ibadah Sabtu itu menyelamatkan Simon.

Ketika dia kembali ke camp, dia melihat kondisinya sudah berantakan.

Semua tas berisi pakaian berhamburan dan makanan berserakan di tanah.

Ke-29 temannya juga tidak ada. Simon dan Joni lantas bertanya pada warga sekitar.

Simon kaget, mendengar puluhan temannya dibawa ke Puncak Kabo dan diikat seperti tahanan perang.

“Saya kaget, saya bingung. Tapi saya dan Pak Joni memutuskan menyusul mereka, karena katanya saya juga dicari. Waktu itu, hati saya sudah bilang, mungkin kami akan disiksa dan dipukuli di atas,” jelasnya.

Ketika Simon dan Joni menuju ke Puncak Kabo, tiba-tiba ada warga yang memanggil mereka dengan bahasa daerah setempat.

Simon tidak mengerti apa yang diucapkan warga tersebut, namun dari bahasa isyarat terbaca kesan pesan jika mereka terancam akan dibunuh.

“Saya tidak mengerti apa maksudnya warga, karena pakai bahasa daerah. Tapi gerak tangannya seperti bilang kalau saya akan ditembak. Saya tidak tahu, harus melarikan diri ke mana,” sebutnya.

Melihat Simon dan Joni bingung, warga setempat kasihan. B

Beberapa ibu rumah tangga lantas menarik mereka dan membawa mereka menuju ke rumah camat setempat.

Diselamatkan Warga

Di sana, keduanya sempat menginap semalam dan diberi makanan.

Setelah itu, pukul 21.10 WIT camat mendapat ancaman dari KKB, jika terbukti menyelamatkan Simon dan Joni, maka camat juga akan dibunuh.

Camat lantas memerintahkan empat warganya melarikan Simon dan Joni melewati hutan belantara

Dalam keadaan ikhlas menghadapi kematian, Simon dan Joni menyempatkan diri untuk berdoa.

Dalam pelariannya ke hutan, Joni sempat dibopong karena pingsan dan kehabisan tenaga.

Sementara Simon terus menjaga stamina dengan semangat dan doa.

“Saya ingat wajah istri dan anak-anak saya, saya bilang sama Tuhan. Ambil saya jika memang Tuhan menghendaki, namun selamatkan saya, jika keluarga saya masih membutuhkan,” ungkapnya.

Keempat warga Papua yang menyelamatkan mereka tak henti-hentinya memberi semangat pada Simon dan Joni.

Mereka bahkan sempat membuat tandu untuk Joni dan menggendongnya.

Kala itu, Simon sangat terharu. Dia percaya, Tuhan sedang menyelamatkan hidupnya.

“Saya melihat kebaikan Tuhan ada dalam tubuh empat putra daerah yang menyelamatkan kami. Mereka adalah orang-orang baik,” katanya.

Survival di Hutan Belantara

Mereka berjalan selama tiga hari di dalam hutan. Selama itu mereka survival atau bertahan hidup dengan hanya memakan daun-daunan hutan dan pakis liar.

Jika bertemu sungai, mereka singgah untuk minum dan beristirahat. Beruntung mereka tidak bertemu hewan buas selama perjalanan.

Pada Rabu siang (5/12/2018) mereka sampai di pos penjagaan TNI Mbua.

Petugas jaga langsung mengamankan Simon dan Joni, sementara dua dari empat putra daerah yang menyelamatkan mereka memutuskan kembali ke Nduga.

“Ketika sampai di pos, hati saya langsung lega, saya masih hidup. Saya menyaksikan kebesaran Tuhan. Saya peluk Pak Joni, saya segera kabarkan pada keluarga, saya masih hidup,” ungkapnya.

Kepada aparat, Simon menjelaskan mereka tidak pernah membuat onar selama bekerja.

Ketika KKB merayakan kemerdekaannya, seluruh pekerja libur dan beristirahat di dalam camp.

Tidak ada pekerja yang memotret kegiatan KKB, semua tidur di camp. Hanya Simon dan Joni yang pergi untuk ibadah Natal.

“Dari Sabtu pagi itu, mereka memang sudah teriak-teriak mencari masalah. Kami masih ke dalam camp dan istirahat. Kami tidak ada memfoto kegiatan mereka, kami tahu kondisi itu akan berbahaya untuk keselamatan kami,” jelasnya.

Disinggung mengenai rekan-rekannya yang tewas tertembak, Simon mengaku sangat menyesal.

Apalagi, satu korban bernama Samuel Pakiding adalah tetangganya di Jalan Tengko Suturu, RT 25, KM 5 Bukit Sion, Jahab, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

“Saya sangat sedih kehilangan mereka, apalagi Samuel adalah teman sekaligus tetangga saya. Dia masih muda, tapi sangat baik,” ujarnya. Sementara itu, di kediamannya, istri Simon yang bernama Ridha Sanda mengaku sangat bahagia.

Dia tidak akan memaksa suaminya untuk segera pulang.

Ridha tahu, saat ini keterangan Simon sangat dibutuhkan untuk pemeriksaan kejahatan KKB. Yang penting dia sudah selamat. Saat ini, dia diamankan di salah satu hotel di Timika.

Dia dijaga ketat, dan saya akan setia menantinya pulang. Biar saja dulu dia memberi kesaksian pelariannya di sana, saya tahu, saat ini dia sangat dibutuhkan,” kata Ridha, Minggu (9/12/2018). (Yanuar Nurcholis Majid)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved