Kamis, 28 Mei 2026

Kolom Anwar Hudijono

Pemuda Muhammadiyah dalam Prosesor Cyber Drone

DI TENGAH-tengah muktamarnya, Pemuda Muhammadiyah (PM) dituduh melakukan korupsi dana Kemah Pemuda Islam Kemenpora tahun 2017.

Tayang:
Editor: AchmadSubechi

Ketika kita berdoa memohon Allah memberi negara ini polisi yang bersih jujur dan adil, maka harus ditunjang pula dengan kepercayaan kepada polisi. Bagaimanapun setiap negara butuh polisi.

Kalau ternyata polisi memang merekayasa dalam bingkai kezaliman, itu menjadi urusan Allah. Dan doa pihak yang dizalimi itu makbul.

Kalau sudah pasrah kepada Allah, maka Allah akan bertindak lebih keras. Jika semula mungkin hukumannya cukup ditabok, dengan dipasrahi maka bisa ditambah dijungkirkan, ditabok, didengkul plus diculek.

Tentu saja, juga harus mencari itibar atau pelajaran. Salah satunya, sebagai kekuatan civil society PM harus berhati-hati berkolaborasi dengan kekuasaan. Kalau berkolaborasi berarti tidak ada jarak lagi ibarat orang berpelukan sambil saling menggenggam dengan erat sehingga malah sulit bergerak.

Politik kekuasaan itu digdaya. Politik kekuasaan itu menggiurkan dengan tawaran rente ekonomi yang bercabang-ranting beranak-pinak.

Rente ekonomi dari politik kekuasaan itu bisa diterima individual, kelompok, organisasi dan sebagainya. Tetapi, sekali rente tetap rente. Dikonsumsi siapapun tetap haram. Betatapun enaknya rente, secara substantif tetap nanah panas yang membakar lidah dan tenggorokan.

Karena saking digdayanya maka biasanya civil society yang akhirnya lemas tak berdaya. Jadi ewuh pakewuh ketika harus melakukan amar ma'ruf nahi mungkar. Sudah dari sono-nya civil society itu memang harus berjarak dengan politik negara (kekuasaan).* * *

Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved