Kolom Dahlan Iskan

Pahlawan Sichuan

Sang pilot pakai sabuk pengaman. Tentu saja. Tidak bisa tercerabut dari kursinya. Ini menguatkan asumsi yang di Amerika.

Editor: AchmadSubechi
ist
Kaca di cockpit pesawat yang rusak. Panel-panel pesawat terlihat bergeser. 

Oleh: Dahlan Iskan

KACA depan pilot itu copot. Minggu lalu. Di udara Tiongkok. Pada ketinggian 32.000 kaki. Sama dengan yang terjadi di South West Airline di Amerika. Bulan lalu.

Badan pilot kesedot tiba-tiba. Ke arah jendela yang terbuka. Akibat perbedaan tekanan udara. Tapi badan pilot hanya doyong. Rambutnya yang pendek tidak sampai melambai-lambai ke arah jendela.

Sang pilot pakai sabuk pengaman. Tentu saja. Tidak bisa tercerabut dari kursinya. Ini menguatkan asumsi yang di Amerika.

Bahwa wanita yang kesedot jendela itu kemungkinan besar tidak pakai seatbelt. Sampai separo badannya di luar pesawat. Ketahan pinggulnya. Dan tarikan penumpang lain.

Yang di Tiongkok ini pesawatnya milik Sichuan Airlines. Jenisnya Airbus A319. Bikinan Prancis. Sejenis Boeing 373 yang di South West Airlines. Yang bikinan Amerika.

Jurusannya Chongqing – Lhasa. Kota Chongqing dulu masuk propinsi Sichuan. Di Tiongkok tengah. Lhasa adalah ibukota Tibet. Tiongkok barat. Tiga jam penerbangan.

Saat jendela di kockpit itu lepas pesawat baru terbang 20 menit. Sama dengan yang di South West. Berarti baru di atas kota Chengdu. Ibukota Provinsi Sichuan. Pilot memutuskan mendarat darurat: di bandara Chengdu. Tidak ada korban. Luka sekali pun. Pilot dapat pujian luar biasa.

Waktu terjadi di South West Airlines, kaca jendela penumpang yang copot. Di Sichuan Airlines ini, kaca depan yang lepas.

Kockpitnya berantakan. Alat-alatnya berubah posisi. Sistem kendali otomatisnya rusak. Angin menerpa keras.

Mata tidak bisa dipakai untuk melihat. Suara angin berisik sekali. Pendengaran pilot terganggu. Angka-angka di kockpit kabur. Udara dingin masuk: minus 40 derajat. Bisa membuat tangan beku. Hanya pilot yang luar biasa tabah yang bisa berpikir dalam kondisi seperti itu.

Sang pilot mengaku ada beberapa pilihan. Menurunkan ketinggian tiba-tiba. Atau turun lebih pelan. Kalau turun cepat suhu udara segera tidak terlalu dingin.

Tekanan udara juga berkurang. Oksigen segera didapat. Tapi akan banyak penumpang yang menderita. Setidaknya menerima kejutan yang mengagetkan.

Bagi yang tidak mengenakan sabuk pengaman bisa bahaya: kepalanya bisa membentur atap. Keras. Bisa mematikan. Seperti dalam kasus All Nippon Airways puluhan tahun lalu.

Sang pilot memilih menderita sendiri di kockpit. Bersama copilot. Sambil harus tetap tenang. Mengendalikan pesawat secara manual. Minta turun di bandara Chengdu. Penumpang, 119 orang, ganti pesawat. Tiga jam kemudian.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved