Makaroni Ngehe, Terdengar Vulgar Tapi Baca Dulu Alasan Nama Unik Itu

Ali bercerita, sebelum memulai bisnis makaroni, dirinya banyak mengalami pasang surut menjalani kehidupan.

Tribun Jogja
Makaroni Ngehe 

WARTA KOTA - Ali Muharam, pemuda 31 tahun asal Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi sosok penting dibalik camilan yang tengah digemari generasi milenial yakni Makaroni Ngehe.

Unik memang namanya "Makaroni Ngehe".

Namun, menurut sang juru kunci bukanlah sekedar nama, tetapi memilki arti yang mendalam bagi dirinya, terutama mengenai perjalanan karier dan bisnisnya.

"Ngehe itu dari perjalanan hidup saya yang ngehe banget," ujar Ali dikutip dari Kompas.com di kantor Makaroni Ngehe di Meruya, Jakarta Barat, Rabu (23/8/2017).

Ali bercerita, sebelum memulai bisnis makaroni, dirinya banyak mengalami pasang surut menjalani kehidupan.

Ali Muharam, pendiri camilan unik Makaroni Ngehe di Meruya, Jakarta. (KOMPAS.com/PRAMDIA ARHANDO JULIANTO) ()
Ali Muharam, pendiri camilan unik Makaroni Ngehe di Meruya, Jakarta. (KOMPAS.com/PRAMDIA ARHANDO JULIANTO) () (Tribun Jogja)

Berbagai hambatan dan tantangan pernah dia rasakan demi mencari pundi-pundi rupiah.

Laki-laki yang merupakan lulusan salah satu SMA di Tasikmalaya, Jawa Barat, pernah menjalani kehidupan yang membuat dirinya tekun  menjalankan usahanya.

Menjadi pria daerah dan jauh dari hiruk pikuk Ibukota membuat hatinya tergerak untuk mencari penghidupan yang lebih baik menuju Jakarta.

Dengan keinginan dan tekad kuat, Ali memutuskan untuk mengadu nasib menuju  Jakarta.

Pada tahun 2004 ada tawaran pekerjaan datang sebagai Office Boy di salah satu  perkantoran di wilayah Bogor.

Tak pikir panjang, Ali pun menerimanya.

Pekerjaan sebagai Office Boy pun Ali nikmati, sambil menunggu jika ada lowongan pekerjaan di Ibukota Jakarta, kota impiannya.

"Kerjanya bersih-bersih, kadang masak, belanja kebutuhan, saya terima tawaran itu karena Bogor tidak terlalu jauh dari kota tujuan saya yaitu Jakarta," ungkap Ali.

Hingga akhirnya, waktu demi waktu, Ali kembali mendapatkan tawaran menjalankan bisnis di Jakarta, yakni membuka usaha warung makan di salah satu kantin kantor bank swasta di kawasan Senayan, Jakarta Selatan.

Rasa khawatir dan was-was pun terlintas dalam hatinya, kehidupan dan seluk beluk Ibukota Jakarta menjadi pertanyaan dalam benak pikirannya. 

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved