Selasa, 12 Mei 2026

Mengenang Soe Hok Gie dan Warisannya

Museum Taman Prasasi di Jalan Tanah Abang 1 mempunyai banyak perbedaan dengan museum-museum yang lain di Jakarta.

Tayang:
Penulis: Feryanto Hadi |
Cahyu Cantika Amiranti
Patung dan nisan Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti. 

Apalagi, dikabarkan, orang-orang yang dikuburkan di pemakaman ini merupakan sosok-sosok penting seperti misalnya para pejabat VOC maupun orang-orang yang dianggap berjasa pada masa itu.

Namun, di antara ratusan makam yang ada di Museum Taman Prasasti, terdapat salah satu nama yang cukup menarik perhatian.

Meski museum ini dikenal sebagai komplek pemakanan para pejabat VOC maupun hartawan Belanda yang meninggal di Indonesia, ternyata nama Soe Hoe Gie juga ada di sini.

Suasana kuburan masih sepi. Saya masih tetap terpaku di depan makam Gie, sapaan akrab Soe Hok Gie sembari mengenang tentang dia, tentang kiprahnya.

Gie , lahir di Jakarta pada 17 Desember 1942 dan meninggal di Gunung Semeru pada 16 Desember 1969. Ia adalah salah seorang aktivis Indonesia, penyair muda .

Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius dan selanjutnya menjadi mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.

Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin. Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari Provinsi Hainan, Cina.

Makam Gie, terletak di bagian tengah agak ke belakang, di bawah sebuah pohon. Pada nisannya, tertulis 'Soe Hok Gie', 17 Desember 1942 - 16 Desember 1969. Di bawahnya lagi ada sebuah tulisan "Nobody knows the troubles. I see nobody knows my Sorrow."

Nama Gie begitu tenar di kalangan aktivis, bahkan di masyarakat luas. Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya, idealismenya . Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)

Perjalanan Gie berakhir ketika pada 15 Desember 1969, ia bersama kawan-kawannya Herman Lantang, Abdul Rahman, Idhan Lubis, Aristides Katoppo, Rudy Badil, Freddy Lasut, Anton Wiyana berangkat menuju Puncak Semeru melalui kawasan Tengger.

Gie ingin bisa merayakan ulang tahunnya yang ke-27 di atap tertinggi Pulau Jawa tersebut, ingin menciptakan cerita yang mengesankan untuk masa depan hidupnya. Tanggal 16 Desember, di tengah angin kencang di ketinggian 3.676 meter (dari atas permukaan laut), Gie, Idhan, Rahman terserang gas beracun. Gie dan Idhan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan nyawa mereka tidak tertolong.

Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved