Mengenang Soe Hok Gie dan Warisannya
Museum Taman Prasasi di Jalan Tanah Abang 1 mempunyai banyak perbedaan dengan museum-museum yang lain di Jakarta.
Penulis: Feryanto Hadi |
Bentuk bangunan di depan komplek pemakaman tua ini adalah bangunan bergaya Doria, yang disediakan untuk menyemayamkan jenazah sebelum melalui upacara penguburan. Terdapat dua sayap di kiri dan kanan masing-masing untuk menempatkan jenazah pria dan wanita.
Terdapat sebuah pagar kayu berukuran besar sebagai akses keluar-masuk pemakaman ini. Bentuk dan gayanya pun masih khas Belanda, dengan jeruji kayu yang besar disertai dengan gembok yang besar pula.
Dekat dengan pagar besar inilah petugas museum menjual tiket masuk.
Masuk ke area museum, kita akan melihat hamparan nisan yang berdiri tegak. Bentuknya pun macam-macam dan sudah pasti berbeda dengan nisan yang kerapkali kita temui di pemakaman pada umumnya.
Semua nisan, memiliki keterangan yang menjelaskan mengenai nama, asal, tempat dan tanggal lahir, tempat dan tanggal meninggal dan banyak juga kuburan yang di atasnya di bangun sebuah prasasti yang menjelaskan sekilas mengenai orang yang dikubur di makam tersebut.
Nisan, pada masa itu, menjadi identitas mereka yang dikuburkan. Seperti halnya nisan yang ada di komplek pemakaman ini, pada setiap nisan dijelaskan mengenai identitas jenazah yang dimakamkan di bawahnya.
Seperti misalnya nisan berbentuk buku ada di makam Direktur Stovia Dr HF Roll. Roll adalah orang yang mempertahankan Sutomo tetap bersekolah meskipun ada berbagai tekanan dari Pemerintah Belanda untuk menghentikan gerakan Boedi Oetomo yang digagas Sutomo.
Keberadan Museum Taman Prasasti di ruang terbuka ini memberikan peluang penataan koleksi prasasti dan taman menyatu dalam suatu taman museum yang indah.
Untuk itu, perlu penataan ulang taman dan koleksi prasasti baik yang lama maupun yang baru, pembentukan zona, hirarki ruang, visual, pemilihan jenis tanaman dan penambahan elemen taman lainnya.
Di komplek museum ini, pengunjung bisa mempelajari latar belakang orang yang disebut pada nisan dan kaitannya dengan sejarah Kota Jakarta.
Tentu saja, sebagian jenazah yang dikuburkan di sana bukanlah orang sembarangan, karena dulunya, komplek pemakaman ini dikhususkan untuk para pejabat atau hartawan Belanda yang ada di Batavia, sebelum akhirnya bisa digunakan untuk pemakaman orang umum yang bisa menyewanya.
Selain itu, area pemakaman juga ditumbuhi pepohonan yang rindang dan sejuk dan damai. Memang, selain fungsi preservasi nilai historik dari museum ini, juga terdapat fungsi sosial dan pelestarian alam, dimana taman yang luas ini difungsikan sebagai paru-paru kota dan juga fungsi sosial lainnya.
Soe Hok Gie dan Kenangannya
Gerimis masih turun dari langit ketika saya datang kembali ke Museum Taman Prasasti sore itu. Pekatnya awan, membuat suasana di komplek kuburan tua ini menjadi begitu mencekam.
Hamparan nisan, patung-patung malaikat serta prasasti lain masih menemani sore kelam. Mereka, para jenazah yang dimakamkan di sini, tentu pernah menjalani kehidupan mereka di Indonesia, khususnya di Batavia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20170213begini-kisah-di-balik-batu-nisan-di-museum-taman-prasasti3_20170213_104329.jpg)