Selasa, 12 Mei 2026

Mengenang Soe Hok Gie dan Warisannya

Museum Taman Prasasi di Jalan Tanah Abang 1 mempunyai banyak perbedaan dengan museum-museum yang lain di Jakarta.

Tayang:
Penulis: Feryanto Hadi |
Cahyu Cantika Amiranti
Patung dan nisan Soe Hok Gie di Museum Taman Prasasti. 

WARTA KOTA, TANAH ABANG-Koleksi Museum Taman Prasasti bukanlah benda-benda yang biasa kita saksikan di museum.

Di dalamnya hanya ada makam, khususnya orang-orang Belanda dan orang asing pada jaman pendudukan VOC dan Jepang di Indonesia.

Tapi jangan salah, meskipun di dalamnya berisi ribuan kuburan kuno, tempat ini sekarang sudah didisain menjadi sebuah taman.

Setiap hari ada saja masyarakat yang berkunjung ke sana untuk menyaksikan kuburan para pejabat maupun orang penting Belanda yang gugur di Batavia maupun di berbagai daerah di Indonesia saat itu.

Meski namanya tidak begitu terkenal seperti Museum Sejarah Jakarta dan Museum Nasional, ternyata banyak juga masyarakat yang berkunjung ke Museum Taman Prasasti.

Tidak hanya masyarakat lokal yang ingin melihat langsung pemakaman kuno yang menyimpan banyak cerita sejarah tersebut, namun banyak wisatawan asing yang berkunjung ke Museum Taman Prasasti ini, terutama dari Belanda.

Museum ini sangat unik, selain gedung utamanya bernuansa bangunan khas Belanda, nisan-nisan dan prasasti di dalamnya juga mempertontonkan pemandangan yang tidak ditemui di pemakaman lain di Jakarta, maupun di Indonesia.

Terlebih banyak makam yang dibuatkan prasasti di atasnya atau dengan bentuk nisan yang menjulang tinggi, bahkan ada makam yang di atasnya terdapat seorang patung wanita yang sedang tertunduk, menyembunyikan wajahnya.

Menurut cerita, makam ini kerap disebut Si Cantik Menangis, dimana patung perempuan itu digambarkan sedang menangisi suaminya yang bunuh diri karena terkena malaria.

Waktu itu, malaria merupakan penyakit yang menakutkan dan kerap menyebabkan kematian.

Makam orang-orang Belanda yang dulunya sekitar 4.600 nisan kini hanya tersisa 1.242 nisan. Ini dikarenakan banyak jenazah yang sudah dipindahkan.

Ada yang dikembalikan ke negaranya Belanda dan ada sebagian yang dimakamkan di makam umum Tanah Kusir.

Komposisi masyarakat 

Museum Taman Prasasti sebagai bukti sisa taman pemakanan umum dari akhir abad ke-18, dengan koleksi nisan makam abad ke-16 dan ke-17, sangat berharga sebagai tempat yang memberi kesaksian tentang komposisi penduduk Batavia yang berasal dari seluruh dunia, informasi tentang panjang pendeknya usia termasuk kematian banyak anak dan beragam bahasa yang digunakan di kota ini.

Berada di area depan bangunan Museum Taman Prasasti, segera akan muncul kesan bahwa bangunan tersebut adalah bekas peninggalan Belanda.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved