Selasa, 2 Juni 2026

Mengenal Batik Nasional Karya Go Tik Swan Penambahan Hardjonagoro

Tahun 1950an, Soekarno memberikan amanah kepada mastro batik Go Tik Swan Panembahan Hardjonagoro untuk mengembangkan batik Indonesia.

Tayang:
Penulis: | Editor: Murtopo
Warta Kota/Lilis Setyaningsih
BATIK INDONESIA-- Bincang wastra batik Indonesia dilakukan du Museum Tekstil, Sabtu (23/9). Tampak pembicara, perancang busana desainer Didi Budiharjo dan kolektor Neneng Iskandar. 

erutama desainer yang mengklaim menggunakan batik sebagai busananya.

“Batik tidak sekedar motif. Tapi banyak pakem dan unsur filosofisnya,” ujar Didi di kesempatan yang sama.

Motif parang misalnya, sebenarnya itu hanya dipakai untuk raja.

Bagi yang tahu filosofi motif Parang, saat pertemuan dengan keluarga kerajaan pasti akan menghindari penggunaan motif Parang.

Batik selobok (longgar) biasanya untuk menutup jenazah. Filosofinya, yang meninggal tidak mengalami kesulitan menghadap Yang Maha Kuasa.

Untuk motif ‘aman’ yang biasa dipakai kapan saja, dan oleh siapa saja, Neneng menyarankan menggunakan motif Sidomukti dan sidomulyo.

Bagaimana motif-motif batik Indonesia, bisa dilihat di Museum Tekstil yang sedang mengadakan pameran karya Go Tik Swan Penambahan Hardjonagoro mulai 20 September hingga 12 November 2017. (lis)

Sumber: WartaKota
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved