Sabtu, 30 Mei 2026

Mengenal Batik Nasional Karya Go Tik Swan Penambahan Hardjonagoro

Tahun 1950an, Soekarno memberikan amanah kepada mastro batik Go Tik Swan Panembahan Hardjonagoro untuk mengembangkan batik Indonesia.

Tayang:
Penulis: | Editor: Murtopo
Warta Kota/Lilis Setyaningsih
BATIK INDONESIA-- Bincang wastra batik Indonesia dilakukan du Museum Tekstil, Sabtu (23/9). Tampak pembicara, perancang busana desainer Didi Budiharjo dan kolektor Neneng Iskandar. 

Sesaat ia sampai ke Pulau Bali dan menginap di rumah seniman asal Jerman, Walter Spies.

Pembatik asal Solo inipun memperoleh inspirasi tentang apa yang akan diciptakan mengenai batik Indonesia.

Lahirlah karya pertama batik Indonesia yang diberi nama Sawunggaling yang menggambarkan dua ekor ayam jantan yang sedang bertarung.

Karya ini, terinspirasi saat Go Tik Swan melihat temannya yang orang Bali memakai baju dengan motif ayam berwarna merah.

Pada zaman dulu, bila seorang raja menerima tamu kehormatan akan menggelar atraksi sabung ayam yang melambangkan ketangguhan apabila ada serangan dari luar.

Sementara nama Sawunggaling, didasarkan legenda Jawa Timur, Sawunggaling adalah nama seorang tokoh lengendaris pembela kebenaran yang membela rakyat pada zaman penjajahan Belanda.

Setelah Sawunggaling lahirlah batik Indonesia yang diber nama Pisan Bali, Kukilo Pekso Wani, Terang Bulan, Sida Mukti, Parang dan lainnya.

Menurut Neneng, batik Indonesia yang dibuat oleh Go Tik Swan adalah hasil perkawinan batik klasik Keraton, terutama gaya batik Surakarta dan Yogyakarta dengan batik gaya pesisir utara Jawa Tengah, terutama Pekalongan.

Teknik pewarnaan soga pada batik Surakarta dan Yogyakarta dikawinkan dengan teknik pewarnaan multiwarna pada batik pesisir.

“Batik Indonesia yang saya lahirkan atas prakarsa Bung Karno hanya sampai pada suatu perubahan kemajuan teknik pembuatan. Kalau dulu dunia pembatikan di Solo hanya mengenal latar hitam, latar putih, dengan soga, dan pantai Utara Jawa seperti Pekalongan hanya mengenal kelengan berwarna, dengan lahirnya Batik Indonesia, batas-batas tersebut menjadi terhapus. Namun nilai-nilai falsafah pola-polanya tetap yang lama,” kata Neneng menirukan ucapan Go Tik Swan.

Kain panjang Kusuma Sri Narendra latar Kembang Jeruk, koleksi Didi Budiarjo
Kain panjang Kusuma Sri Narendra latar Kembang Jeruk, koleksi Didi Budiarjo (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

Neneng menjelaskan, reformasi yang dilakukan hanya dalam hal mediumnya saja.

Sementara filosofis yang mendasarinya sama sekali tidak ditinggalkan.

Bicara filosofis batik, desainer Didi Budiarjo mengatakan sangat luas.

Bahkan Didi menegaskan bahwa batik adalah never ending stories.

Banyak filosofis dan pakem di batik yang perlu diketahui.

Sumber: WartaKota
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved