Dinkes Bekasi Kesulitan Tembus Sekolah Penolak Vaksin
Kedatangan petugas Dinas Kesehatan Kota Bekasi sempat ditolak oleh dua sekolah swasta setempat yang enggan berpartisipasi pada program vaksinasi
Penulis: Fitriyandi Al Fajri |
WARTA KOTA, BEKASI -- Kedatangan petugas Dinas Kesehatan Kota Bekasi sempat ditolak oleh dua sekolah swasta setempat yang enggan berpartisipasi pada program vaksinasi pemerintah pusat.
Padahal kedatangan tim ke sana untuk melayangkan surat klarifikasi alasan mereka tidak mengikuti progam yang dicanangkan tersebut.
"Tim di lapangan sempat kesulitan untuk masuk ke sekolah pada Rabu (2/8) siang. Padahal mereka ingin menyampaikan surat alasan sekolah tidak mau mengikuti program itu," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Kusnanto Saidi pada Kamis (3/8).
Dua sekolah swasta di Kota Bekasi menolak program imunisasi campak dan rubella yang digagas oleh pemerintah pusat sejak Selasa (1/8) lalu.
Alasannya mereka ragu dengan keaslian dan kehalalannya, apalagi beberapa waktu lalu marak vaksin palsu yang dibuat oleh warga Kota Bekasi.
Kusnanto mengatakan, pihaknya tengah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Bekasi untuk menjembatani persoalan ini.
Meski begitu dia meyakini, kedua sekolah tersebut bakal mengikuti program vaksinasi tersebut.
"Informasi terakhir yang saya dapat. Mereka kemungkinan mau mengikuti program vaksinasi ini. Tapi kita masih menunggu konfirmasi langsung dari pihak sekolah," kata Kusnanto.
Kusnanto mengungkapkan, sosialisasi ini telah dilaksanakan sejak Januari 2017 lalu. Pihak sekolah kerap diundang bahkan petugas dinas bertandang ke sekolah-sekolah untuk memberitahu adanya program vaksinasi ini.
"Dua sekolah yang menolak itu sebetulnya belum mendapat giliran vaksinasi. Masih ada waktu untuk meyakinkan mereka mengikuti program ini," jelasnya.
Dia mencatat ada 658.563 anak yang mengikuti program imunisasi ini. Pemerintah daerah menargetkan 95 persen anak mengikuti program ini yang dimulai sejak Selasa (1/8) lalu.
"Pelaksanaannya dibagi dalam dua tahap, yaitu Agustus dan September," ujar Kusnanto.
Pada bulan Agustus vaksinasi akan dilakukan pada siswa sekolah pada jenjang SD/MI dan SMP/MTs. Sementara bulan September, difokuskan untuk anak berusia di atas sembilan bulan yang belum bersekolah.
"Pelaksanaannya dilakukan di 1.700 Posyandu termasuk rumah sakit dan sekolah," ucapnya.
Menurutnya, program ini wajib dilaksanakan oleh anak berusia 9 bulan hingga 15 tahun. Meski mereka pernah mendapatkan imunisasi serupa sebelumnya, program ini tetap harus diikuti.