Malaysia Negara yang Diminati TKI Bekasi
TKI asal Kota Bekasi cenderung lebih memilih negara Malaysia untuk mengais rezeki. Mereka memilih Negeri Jiran tersebut karena berbagai pertimbangan.
Penulis: Fitriyandi Al Fajri |
Menurut Hartono, tidak semua TKI asal Kota Bekasi bekerja sebagai penata laksana rumah tangga atau pembantu rumah tangga saja.
Ada juga yang bekerja sebagai sopir, pendamping orang lanjut usia di panti jompo dan sebagainya.
"Untuk jenis kelaminnya, paling banyak perempuan sekitar 60 persen dan laki-laki sekitar 40 persen," jelasnya.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Bekasi, Syaherallayali tidak memungkiri, upah di negeri orang lain lebih menjanjikan dari negeri sendiri.
Karena itu, kata dia, jumlah TKI terus mengalami peningkatan.
Meski begitu, kata dia, bukan berarti Upah Minimum (UMK) Kota Bekasi sebesar Rp 3,6 juta per bulan sangat tidak layak.
Menurut dia, gaji sebesar itu sudah melewati tahapan kajian yang matang antara pemerintah, pihak swasta dan perwakilan para pekerja.
"Kalau mengacu pada sistem pengupahan nasional yah itu lebih dari cukup. Tapi kalau untuk kebutuhan sebetulnya belum mencukupi," kata Syaherallayali
Dia mengungkapkan, sebetulnya pemerintah berada di posisi yang dilematis. Pemerintah bisa saja menaikan gaji para pekerja agar masyarakat bisa mencari rejeki di negeri sendiri. Namun keputusan itu akan berimplikasi pada jumlah investasi di Kota Bekasi.
Para investor, kata dia, cenderung akan hengkang dari Kota Bekasi karena upah yang dipatok cukup tinggi.
"Kalau investor pindah dari Kota Bekasi, justru bakal menambah jumlah pengangguran. Ini posisi yang dilematis bagi pemerintah," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20170730ratusan-tki-di-tulungagung-jatim-mendapat-perlindungan-bpjs-ketenagakerjaan_20170730_104636.jpg)