Jumat, 24 April 2026

Tragedi Pendakian Gunung Prau Tinggalkan Duka

Tragedi pendakian Gunung Prau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban. Mereka yang meninggal tergolong baru berkeluarga.

Penulis: Feryanto Hadi |
Keluarga pendaki yang berduka. 

WARTA KOTA, DUREN SAWIT-Canda tawa Lilis Sulistyawati bersama sang suami, Ady Setyawan, pada Jumat (21/4) lalu rupanya menjadi momentum kebahagiaan terakhir bagi pasangan itu sebelum keduanya berpisah untuk selama-lamanya.

Saat itu sang suami berpamitan hendak melakukan pendakian ke Gunung Prau di Wonosobo, Jawa Tengah. Jumat malam, suaminya bersama 10 sahabatnya berangkat.

Suaminya pun kembali pada Senin (24/4) pagi. Hanya saja, kondisi suami sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Rentetan kejadian yang begitu cepat dan mengejutkan ini dirasakan Lilis bagai seperti sebuah mimpi.

Bahkan, hingga proses pemakaman suamimya, Wawan, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Wakaf Gotong Royong Cipinang Muara, Jakarta Timur, pada Senin siang, Lilis masih tampak terpukul.

Matanya masih lebam akibat menangis seharian. Badannya lemas. Hati Lilis luluh lantak mendapat ujian berat ini.

"Tidak ada yang berpikir dia akan kembali dalam keadaan seperti itu," ucap Lilis, lirih, saat memulai perbincangan dengan Warta Kota di kediamannya Jalan Cipinang Muara II, Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Lilis bilang ia tidak punya firasat buruk ketika Wawan berpamitan pada Jumat petang. Hanya saja, anak semata wayang mereka yang berusia 2,5 tahun, Muhammad Elang Ghifari, sempat rewel dan meminta ayahnya agar jangan pergi.

"Pada saat pamitan suami saya bawa ransel. Anak saya bilang 'yah, jangan sekolah'. Maksud anak saya dikira suami saya sekolah karena bawa tas. Dia juga nangis saat ayahnya pergi. Bahkan Elang sampai sakit," jelasnya.

Pada keesokan harinya, Sabtu pagi, Lilis masih melalukan komunikasi dengan sang suami. "Dia bilang jam setengah sembilan pagi baru sampai Purbalingga karena bus yang ditumpangi mogok. Itu komunikasi terakhir kami. Setelah itu handphone-nya tidak bisa dihubungi," kata Lilis.

Pada Minggu petang, keluarga Lilis mendapat kabar dari rekan Wawan yang sama-sama naik gunung. Kabar itu menyebutkan bahwa rombongan pendaki yang diikuti Wawan terkena musibah di Gunung Prau.

"Mereka bilang rombongan suami saya kesamber petir. Awalnya saya nggak begitu percaya. Tapi pada malam harinya ada info lagi suami saya ditemukan meninggal dunia," terang Lilis.

Lilis langsung ambrug mendengar kabar itu. Dadanya seperti dihantam dengan benda dengan keras, sangat sesak. Semalaman ia menangis.

Tangisannya makin pecah ketika pada Senin pagi mobil ambulance yang membawa jasad suaminya tiba di rumah duka. Ia tak kuasa melihat kondisi jenazah suaminya.

Hingga Senin siang usai jenazah Wawan dimakamkan pun tangisannya masih belum berhenti.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved