Minggu, 12 April 2026

Produsen Ikan Asin di Bekasi Kian Lesu

Pendapatan para pelaku industri rumahan ikan asin dipastikan lesu. Soalnya, proses pengeringan ikan membutuhkan waktu yang lebih lama dari biasanya.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri |
Independent
Ilustrasi ikan yang berhasil ditangkap nelayan. 

WARTA KOTA, BEKASI -- Tak bisa dipungkiri, industri rumahan ikan asin dengan metode tradisional sangat mengandalkan teriknya matahari untuk proses pengeringan ikan.

Namun, apa jadinya, bila cuaca mendung bahkan hujan terus melanda permukiman warga.

Pendapatan para pelaku industri rumahan ikan asin dipastikan lesu.

Soalnya, proses pengeringan ikan membutuhkan waktu yang lebih lama dari biasanya.

Baca: Terlalu, Tidak Dikasih Uang, Pengemis Lemparkan Ikan Asin Busuk ke Warga

Seperti yang dialami oleh produsen ikan asin rumahan di Desa Segarajaya, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi.

Apabila cuaca terik atau bersahabat, ikan asin berbagai jenis akan kering dalam waktu dua hari, sehingga bisa segera dijual ke konsumen.

"Kalau sekarang, bisa perlu menjemur ikan selama seminggu agar ikannya kering," kata Imam (47) salah seorang produsen ikan asin di wilayah Tarumajaya pada Senin (26/12/2016).

Baca: Modus Baru, Kirimkan Sabu 15 Kg dan Ekstasi di Paket Ikan Asin

Imam mengatakan, dua bulan lalu dia mampu memproduksi ikan asin sebanyak 4 kwintal atau 400 kilogram dalam dua hari.

Tapi, sekarang, penjualannya turun hingga 40 persen sebab proses pengeringan ikan tertunda akibat cuaca hujan.

"Bahkan, pernah saya tidak jemur ikan seharian, karena hujan mengguyur rumah selama satu hari penuh," ujarnya.

Senada diungkapkan oleh Yanto (51) produsen ikan asin lainnya. Yanto mengaku, pendapatannya turun hingga 50 persen akibat cuaca hujan yang mengguyur wilayah setempat.

Dalam dua hari, setidaknya dia mampu menjual 4 kwintal ikan asin berbagai jenis yang dihargai Rp 6 juta.

Untuk satu kilogram ikan, dijual sebesar Rp 15.000 ke pasar di dekat lingkungannya.

Karena cuaca buruk itulah, maka pendapatan dia saat ini menjadi Rp 3 jutaan dalam dua hari.

"Itu pendapatan kotor, karena belum dipotong biaya beli ikannya dari nelayan sekitar Rp 5.000 hingga Rp 8.000 per kilogram (kg)," kata Yanto.

Baca: Tak Bisa Melaut, Nelayan Muara Baru Juga Akan Lakukan Demo Besar-besaran

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved