resensi buku
Buah Pala, Kolonialisme, dan Korporasi Transnasional
Mengapa rempah-rempah sejenis pala, buah yang tampak kering, keriput, dan tidak jauh lebih besar daripada sebutir kacang, menjadi rebutan bangsa Eropa
The East India Company hampir bangkrut lebih setengah abad kemudian, tapi diselamatkan oleh suntikan dana menjadi korporasi modern, permanen dengan saham gabungan. Ini mengingatkan kejadian yang dipraktikkan korporasi masa kini.
Perseteruan bangsa Eropa atas pulau-pulau rempah, yang melibatkan Pulau Run, melahirkan perjanjian damai antara Inggris-Belanda: Pakta Westminster pada 1654, yang memasukkan tuntutan biaya restorasi Pulau Run.
Namun, perjanjian ini belum mengakhiri siksaan terhadap Run. Pada 1664, Pulau Run kembali mengalami penghancuran besar-besaran, rumpun pala ditebang dan tumbuhan dibakar hingga ke akar-akarnya oleh Belanda.
Run menjadi karang tandus dan tidak ramah. Inilah yang menjadi alasan Inggris menuntut pertukaran Pulau Run dengan Manhattan.
Namun, akhirnya, di balik semua dinamika pertukaran tersebut, yang paling menderita adalah penduduk Pulau Run. Inilah makna pertukaran itu.
Siti Maimunah,
Peneliti pada Sajogyo Institute
DATA BUKU:
Pulau Run: Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan
Pengarang: Giles Milton
Penerbit: Alvabet
Cetakan: I, 2015
Tebal: xiii + 495 halaman
ISBN: 978-602-9193-73-2
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20160120buah-pala-kolonialisme-dan-korporasi-transnasional_20160120_103305.jpg)