resensi buku
Buah Pala, Kolonialisme, dan Korporasi Transnasional
Mengapa rempah-rempah sejenis pala, buah yang tampak kering, keriput, dan tidak jauh lebih besar daripada sebutir kacang, menjadi rebutan bangsa Eropa
Inilah kelemahan buku ini. Milton hanya menceritakan kehebatan dan kegigihan perburuan rempah dari kacamata bangsa Eropa.
Perampokan kekayaan bangsa-bangsa kepulauan di Nusantara menjadi heroik dan berharga.
Kesan yang berbeda terhadap cara pandang Eropa pada penduduk asli yang dianggap primitif, barbar, dan licik.
Misalnya, dalam persinggahannya di Table Bay Afrika Selatan (1601), orang Inggris menggambarkan penduduk asli sebagai orang barbar liar yang mudah dieksploitasi.
Mereka juga menggambarkan kota Banten dikenal karena perempuan-perempuannya yang murahan dan lemahnya moral serta aura kecabulan yang menggantung di atas kota itu.
Orang Belanda menggambarkan penduduk asli Banda sebagai begitu licik dan kurang ajar sehingga nyaris tak bisa dipercaya, sekaligus menggelikan karena menawarkan palanya dengan harga sangat rendah.
Buku ini juga miskin cerita perempuan, seolah mengamini kolonialisme yang berwajah laki-laki, maskulin, patriarki.
Tentu ada sosok perempuan yang disebut Ratu Elizabeth. Perempuan paling berkuasa di Inggris yang memiliki 3.000 koleksi gaun terkenal, mewakili kehidupan bangsawan yang bergelimang kemewahan. Akan tetapi, ini juga kekuatan buku Milton.
Jika di bangku SD kita membaca heroisme pahlawan Nusantara mengusir penjajah, kali ini heroisme versi sang penjajah.
Intrik, kekerasan, penyiksaan, dan perang mewarnai hubungan antara Inggris, Belanda, dan penduduk asli.
Pulau Banda salah satu saksi peristiwa biadab, pembantaian 44 orang Banda dalam kurungan bambu, hingga pemindahan sedikitnya 900 orang Banda ke Jawa untuk dijual sebagai budak, yang seperempatnya mati di perjalanan.
Mungkin inilah awal bangsa Indonesia mengenal kekerasan sebagai cara penaklukan, termasuk metode penyiksaan yang dipaparkan dengan gambar, saat orang Inggris menyiksa orang China ataupun orang Belanda menyiksa orang Inggris.
Hal berharga setelah membaca buku ini bukan perasaan bangga sebagai bangsa pemilik Pulau Run, yang pernah ditukar dengan Manhattan, salah satu kota utama di Amerika Serikat, seperti tertera dalam sampul buku ini.
Lebih penting memaknai buku ini dalam memahami posisi penting Indonesia di masa lalu sebagai wilayah penghasil komoditas global, yaitu rempah-rempah—yang menjadi pintu akumulasi kapital bangsa Eropa.
Kongsi Inggris-Belanda
Perburuan rempah-rempah menjadi penanda penting menguatnya relasi pemerintahan dan pebisnis Eropa, serta tonggak lahirnya korporasi modern transnasional: kongsi dagang Inggris, The East India Company (1599), pesaingnya kongsi dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pada 1602.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20160120buah-pala-kolonialisme-dan-korporasi-transnasional_20160120_103305.jpg)