Kamis, 16 April 2026

resensi buku

Buah Pala, Kolonialisme, dan Korporasi Transnasional

Mengapa rempah-rempah sejenis pala, buah yang tampak kering, keriput, dan tidak jauh lebih besar daripada sebutir kacang, menjadi rebutan bangsa Eropa

Kompas/Heru Sri Kumoro
Cover buku Pulau Run: Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan yang dikarang Giles Milton. 

Oleh Siti Maimunah

Mengapa rempah-rempah sejenis pala, buah yang tampak kering, keriput, dan tidak jauh lebih besar daripada sebutir kacang, menjadi rebutan bangsa Eropa?

Pala (Myristica fragrans) adalah buah yang membuat bangsa Spanyol, Inggris, Portugis, dan Belanda menghabiskan waktu puluhan tahun, melarung armada-armada terkuat, mengorbankan ribuan pelaut terbaik, serta pendanaan yang tak terbatas, untuk mencapai pulau-pulau gudang rempah di timur jauh: Maluku, Banda, Neira, Ai, dan yang paling diimpikan, Pulau Run.

Padahal, Pulau Run tidak istimewa. Run sebuah pulau karang kecil di bagian luar gugusan kepulauan Banda dengan pelabuhannya yang kecil dikelilingi batu karang di bawah laut dan telah menghancurkan banyak kapal yang mencoba mendarat di sana.

Tetapi, tebing dan gunung-gunungnya begitu kusut dengan pepohonan pala dan tiap tahun menghasilkan sepertiga juta pon rempah-rempah!

Gugusan pulau ”gudang rempah” itu diburu karena memproduksi komoditas pasar, seperti pala, kayu manis, cengkeh, lada, dan bunga lawang.

Buah pala rempah yang paling dicari. Ia dipercaya bisa menyembuhkan wabah sampar, disentri, hingga berak darah— penyebab kematian paling ditakuti kala itu.

Pala melahirkan berbagai pengetahuan medis dan diet, bahkan klaim-klaim tentang khasiatnya sebagai zat perangsang berahi.

Harga pala melambung dan hanya orang kaya yang mampu membelinya.

Perburuan rempah
Buku yang judul aslinya Nathaniel’s Nutmeg ini menceritakan sejarah kolonialisme melalui perburuan dan perang antarbangsa demi monopoli perdagangan pala di kepulauan Nusantara.

Permintaan pasar dan harga yang tinggi kala itu membuat kerajaan-kerajaan Eropa bernafsu mendapatkan rempah-rempah langsung dari tempat tumbuhnya.

Wilayah yang tak mereka ketahui dengan rute sangat berbahaya karena iklimnya yang berbeda serta jarak tempuhnya menghabiskan waktu berbulan-bulan, bahkan hitungan tahun. Itu pun jika mereka kembali dengan selamat.

Hal terbaik dari buku ini adalah cara Giles Milton menuturkan dan meramu jurnal, catatan harian, dan surat-surat para petualang dari masa perburuan rempah-rempah.

Kita diajak mengenal peristiwa dan peran yang dilakukan tiap-tiap petualang dan latar saat kejadian itu berlangsung. Termasuk gaya hidup bangsawan kerajaan Eropa hingga Asia yang tidak jauh dari koleksi barang mewah, pesta-pesta, dan alkohol.

Tentu saja tutur utama buku ini dimiliki para saudagar dan petualang Inggris dan Belanda yang berkompetisi memburu rempah, dengan sifatnya yang keras, pemarah, eksentrik, hingga pembangkang.

Sumber: KOMPAS
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved